Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Degradasi Umat; Munculnya Politik Sebagai Alat Pecah Belah

21 Juli 2025 18:00

Degradasi Umat; Munculnya Politik Sebagai Alat Pecah Belah

(وَمَنْ لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، فَلَيْسَ مِنْهُمْ (مستدرك الحاكم

Wa man lam yahtamma lilmuslimiina ‘aammata, fa laisa minhum. (HR. Ath Tahbarani) Bersabdah Rosululloh SAW : Barang siapa yang tidak mementingkan masalah kaum muslimin, maka bukanlah ia dari golonganku.”

Benarkah apa yang terjadi Gaza, Palestina tidak ada hubungannya dengan kaum muslimin?

Dalam mauidhoh chasanah Pengajian Taubat Bersama 1447 Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia Syekh Muchammad Mukhtarulloh Mujtabaa Mu’thi menyebutkan “Makanya sampai sekarang ini kalau Palestina ini sudah aman, dunia aman! Tapi kalau satu ini tidak aman, tetep dunia juga tidak aman. Sekarang apa yang terjadi di Gaza telah meluas. Hingga orang-orang bingung; ahli politik bingung, orang pemerintah dan rakyatpun bingung. Tetapi kalau betul-betul berpegangan dengan Al Qur'an tidak akan bingung! Karena semua itu sudah ditakdirkan oleh Alloh Ta'ala, sudah diterangkan dalam Al Qur'an”.

Melihat kondisi geopolitik saat ini, apa yang terjadi di Timur Tengah tentu membuat sikap umat muslim juga menjadi sorotan. Tak sedikit narasi yang mempertanyan  bagaimana sikap negara-negara yang mayotitas rakyatnya beragama Islam. Khususnya negara-negara yang berada dekat di mana konflik ini terjadi, Gaza - Palestina.

Semakin kuat ketika masyarakat dunia membuat gerakan Global March to Gaza, mendesak Israel agar segera membuka blokade wilayah Palestina. Pada tanggal 15 Juni rencanaya akan berkumpul di Al-Arish, Mesir. Ribuan orang dikabarkan akan ikut dalam konvoi ini untuk bisa menembus perbatasan Rafah. Mereka menuntut masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza yang disebutnya sebagai ‘wilayah dengan wabah kelaparan paling mengenaskan di dunia, dimana setiap harinya angka kematian terus bertambah. Hal ini bermula dari adanya gerakan 12 influencer dari berbagai negara mengumpulkan donasi untuk Palestina, dikenal dengan Gerakan Kapal Madleen.

Tentunya dua gerakan tersebut mendapat ‘teror’, dimana ribuan orang merasakan sulitnya menembus perbatasan. Dalam salah satu unggahan diberbagai platform digital disebutkan ada seorang perawat dari rombongan Global Merch to Gaza memohon kepada pasukan Mesir untuk diberi izin menuju Palestina, namun salah seorang pasukan Mesir tanpa banyak kata serta menahan tangis ia berkata “saya terpaksa.” Diketahui, perawat yang memohon tersebut adalah orang yang beragama Nasrani, sedangkan pasukan Mesir yang menjawab adalah seorang muslim. Video tersebut mengundang berbagai pertanyaan mengenai sikap negara yang mayoritas umat muslim ini, sampai kapan umat muslim tutup mata melihat pembantaian?

Tentu, jika berbicara mengenai kebijakan politik satu negara tak bisa menunjuk pada keimanan satu wilayah. Tapi, hal ini terjadi di depan mata, fakta tak terbantahkan bahwa pemerintah yang mayoritas pemangku jabatannya muslim belumlah satu suara, satu pemikiran dan satu tindakan untuk mengatasi genosida yang terjadi di wilayah Timur Tengah.

Penulis: Kholidah

Editor: Sa’adatush S.