ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Degradasi Umat; Munculnya Politik Sebagai Alat Pecah Belah
21 Juli 2025 18:00

PERISTIWA HIJRAH DAN SISTEM TATA NEGARA
Berkaca dari kisah hijrah Rosululloh dari Mekkah menuju Madinah, umat muslim mengalami banyak cobaan yang bertubi-tubi. Bagaimana Nabi Muchammad dan umat Islam di kejar-kejar oleh kaum Quraisy. Setelah beliau sampai ke Madinah, beliau merancang pendirian masjid Quba. Dan dari adanya perjalanan tersebut Nabi Muchammad membuat keputusan yang kemudian dapat menyatukan rakyat Yatsrip, kemudian di kenal sebagai Piagam Madinah.
Dalam Buku Ibnu Hisyam, isi piagam Madinah itu disebutkan (diterjemahkan):
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Inilah Piagam tertulis dari Nabi Muhammad saw kepada orang-orang mukmin dan muslim, baik yang berasal dari suku Quraisy maupun suku Yatsrib, dan kepada segenap warga yang ikut bersama mereka, yang telah membentuk kepentingan bersama dengan mereka dan telah berjuang bersama mereka. Sesungguhnya mereka adalah satu bangsa-negara (ummah) bebas dari (pengaruh dan kekuasaan) manusia lainnya.
Perjanjian Madinah itu juga dikenal sebagai dasar bagaimana tata kelola dan keamanan suatu negara menjadi hal fundamental untuk rakyat merasa aman dan tentram. Terlepas dari agama yang dianut, mereka adalah rakyat ummatan wachidatan; yang memiliki kewajiban yang sama untuk membela tanah airnya.
Piagam Madinah juga menjadi fakta bicara akan firman-firman Alloh dalam kitab-Nya. Menjadikan umat suatu bangsa dan negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghoffuur. Suatu I’tiqod yang teguh untuk menjadi bangsa dan negara yang tak lepas dari berkat rochmat Alloh dengan jalan keselamatan dan kebahagiaan. Karena jika yang haq sudah datang maka yang batal tentu akan lenyap dengan sendirinya.
Dari Piagam Madinah ini juga kita tahu, tuduhan bahwa Islam disiarkan dengan pedang (perang) dan paksaan tidaklah benar. Tapi sayangnya, keterangan-keterangan halus ini telah masuk dalam diri anak kaum muslimin. Sehingga muncul anggapan bahwa ajaran agama Islam tidak dapat dijadikan dasar perdamaian dan tidak dapat dijadikan dasar kerjasama dengan golongan yang lain. Anggapan yang keliru ini, tanpa disadari berubah menjadi bentuk pemahaman. Secara halus pula keterangan-keterangan mengenai ‘ayat perang’ lebih mempengaruhi dari pada Islam sebagai rochmatan lil ‘alamiin.
Dalam bukunya Sedjarah Al Quran, H. Abu Bakar (Meulaboh Aceh) menyebutkan : Barang siapa yang mengetahui sejarah Islam, baik riwayat perdjuangan Nabi Muchammad SAW maupun pemerintahan di zaman Khalifah Islam dan raja-raja dulu maupun sekarang yang mengikuti jejak junjungan Islam itu, akan tersenyum melihat ketakutan dan kecurigaan yang tak pada tempatnya itu. Karena sejatinya Islam membawa agama yang tel quel, terus terang dan terlihat nyata.
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan