ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Pandemi COVID-19 Pembuka Pintu Kesadaran Spiritual
12 Maret 2025 06:59

Kebangkitan spiritual belakangan ini tengah menjadi topik yang menarik untuk dibahas, tidak hanya di dunia internasional, namun telah merambah obrolan di warung kopi. Khususnya bagi warga Thoriqoh Shiddiqiyyah yang menyebutnya dengan istilah “kebangkitan tashawwuf”. Pandemi COVID-19 merupakan salah satu pertandanya, sebagaimana dikutip dalam Jurnal: 5 Tanda Kebangkitan Tashawwuf
Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi yang merupakan tokoh tashawwuf, menyampaikan dalam pitutur luhurnya tentang adanya tanda-tanda kebangkitan tashawwuf dunia. Yang mana salah satunya adalah kejadian pandemi COVID-19, dimulai lebih dari lima tahun lalu (2019), dan masuk ke Indonesia pada bulan Maret 2020. Virus ini telah melumpuhkan perekonomian global.
KETAKUTAN DAN TUMBUHNYA KESADARAN
Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), virus penyakit yang dikenal sebagai corona ini tak mengenal suku, ras, dan agama. Penularannya yang sangat cepat mampu membuat dunia mengalami guncangan hebat. Tak terbilang banyaknya manusia ‘tertekan’ secara fisik dan mental, terdiagnosis virus, bahkan meninggal karena ‘sesuatu yang tak terlihat’.
Tercatat dalam data resmi yang terlapor dari WHO (World Health Organization), sebanyak lebih dari 770 juta penduduk dunia telah terjangkit virus COVID dengan angka kematian lebih dari 7 jiwa di seluruh dunia. Di luar angka kematian yang resmi terlapor, angka kematian sesungguhnya bisa dua bahkan tiga kali lipat lebih tinggi.
Tak hanya merenggut nyawa, COVID juga berdampak pada batasan aturan dalam aktifitas masyarakat dunia menjadi sangat ketat.
Mulai dari karantina wilayah di beberapa negara, isolasi diri, pembatasan perjalanan antar kota atau wilayah dengan kewajiban memakai masker di tempat umum, physical distancing (menjaga jarak fisik), mencuci tangan secara rutin, pemeriksaan suhu tubuh, bekerja atau sekolah dari rumah/daring, hingga dibatasinya acara-acara dan ibadah di tempat umum.
Namun, di balik lumpuhnya hampir seluruh aktifitas dunia, ada pelajaran yang dapat diambil. Seperti halnya ‘Tuhan’ disebut, dicari, hingga titik dipertanyakan keberadaanNya. Jelas bahwa kejadian ini mengerucut pada eksistensi atau keberadaan ‘yang tak terlihat’, mulai dari corona itu sendiri, kondisi mental, hingga ‘pencarian’ esensi atau sejatinya diri sendiri. Dari hasil observasi diri masing-masing inilah yang kemudian muncul kesadaran yang dapat menumbuhkan rasa keimanan atau ‘kepercayaan’ dalam diri manusia.
Sebagai contoh, dilansir dari website resmi Yurtdışı Türkler ve Akraba Topluluklar Başkanlığı atau Kepresidenan untuk Orang Turki di Luar Negeri dan Komunitas Terkait, di tengah keterbatasan sosial tersebut yang secara khusus di Eropa, adzan-adzan dikumandangkan. Padahal sebelumnya berdasarkan peraturan, adzan tidak diizinkan memakai pengeras suara kecuali di acara khusus. Hal tersebut menjadi obat tidak hanya bagi umat Muslim disana, tapi juga bagi banyak non-muslim. Mereka tercengang, sebab adzan di tengah pandemi dirasa menjadi penguat solidaritas dan semangat dalam menghadapi kejadian besar ini.
Selain itu menurut AA Turki, hampir 100 masjid di Jerman dan Belanda mengumandangkan adzan pada hari Jumat. Adzan dikumandangkan dari masjid-masjid milik grup Muslim Turki DITIB dan juga salah satu asosiasi Muslim Turki terbesar di Jerman, IGMG (Islamic Community National View). Fahrettin Alptekin selaku representatif DITIB di Essen, Germany, menyampaikan bahwa Adzan dapat didengar lebih dari 50 masjid lokal.
Sedangkan di Belanda, menyiarkan adzan melalui pengeras suara semakin sering dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap Muslim melawan virus.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur