ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah Dan Kemenangan Nyata Bagi Dunia
25 Januari 2025 15:00

Jika diperhatikan tahun wafatnya Syekh Thoifur pada 261 Hijriyyah atau 875 Masehi, sehingga nama Thoriqoh Shiddiqiyyah tenggelam 1000 tahun lamanya. Tenggelamnya nama Shiddiqiyyah ini ternyata memiliki dampak tidak baik bagi perdamaian, dimana hubungan baik yang selama ini terawat antara poros timur dan barat mulai terusik.
Dalam buku Penaklukan Dunia Islam disebutkan bahwa pada abad ke 9 akhir, Paus Urbanus ke-2 mulai membangkitkan lagi fanatisme agama terhadap Islam dengan memaklumkan Perang Salib dikonsili Clermont 1095 dengan memberi ampun sempurna kepada mereka yang menyanggupkan diri untuk memerangi kaum muslimin guna merebut dunia timur. Ini juga menjadi awal adanya perang salib yang dimulai kalangan yang tidak suka jika ajaran tauhid dikenal dan meluas keseluruh lapisan.
Konsili adalah pertemuan para uskup Gereja untuk membahas ajaran iman, kesusilaan, dan tata kelola Gereja. Konsili juga bisa diartikan sebagai muktamar otoritatif para uskup Gereja.
Perang salib yang dilakukan selama kurang lebih 200 tahun telah meluas bukan hanya meliputi daerah timur tengah tapi juga meluas ke seluruh dunia. Penaklukan negara-negara yang mayoritas muslim menjadi catatan pahit dalam sejarah, pengikisan ajaran Islam di dunia menimbulkan munculnya faham materialis.
Munculnya faham materialis ini menimbulkan kemunduran dalam dunia spiritual begitupula nilai-nilai kemanusiaan yang semakin bias. Sehingga ilmu, pengetahuan dan pemahaman yang merupakan nikmat pemberian dari Alloh Ta'ala diubah arahnya; pada hal yang berbau keduniawian. Hal yang ghaib berusaha untuk dijasadkan, begitu pula sebaliknya. Luasnya akal fikir dan dalamnya hati manusia dibatasi hingga jauh dari Sang Pencipta. Ilmu pengetahui seolah dibuat hanya bisa diakses dari kalangan penguasa materialis. Sebelum menyambungkan hubungan Thoriqoh Shiddiqiyyah dengan Kemenengan Yang Nyata, mari kembali mereview kejadian di masa lalu.
THORIQOH SHIDDIQIYYAH ADALAH AWAL, PEMBUKA JALAN KEMENANGAN
Sejak awal, kembali sebentar ke zaman Khulafa’u Rosyidin pertama yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kepemimpinnya adalah pembuka jalan setelah wafatnya Nabi Muchammad SAW. Dimana ia dapat menyatukan umat muslim yang mulai muncul tanda-tanda terpecah belah, penumpasan gerakan riddah (murtad) serta kafir murtad dan juga penumpasan orang-orang yang mengaku menjadi pengganti nabi. Masa kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq dapat menyatukan umat muslim yang kemudian menjadi jalan pembuka untuk pembebasan Al-Aqsho dari tangan Romawi.
Diakhir kepemimpinannya ia memberi dorongan semangat jihad fii sabilillah sehingga umat muslim dapat memenangkan perlawanan dengan jumlah pasukan yang kalah jauh. Dalam komando Kholid bin Walid pasukan berkuda yang berjumlah 100 orang dapat menghadapi 100.000 pasukan Romawi. Pasukan yang jumlahnya tak seberapa ini dapat memporak-porandakan pasukan berjumlah besar dan membuatnya lari kocar-kacir. Ketika itu kaum muslim dengan leluasa dapat mengejar dan menghabisi tanpa perlawanan sedikitpun.
Dalam buku Al Bidayah wan Nihayah Masa Khulafa'ur Rasyidin kemenangan umat muslim ini telah memunculkan pertanyaan dari Heraklius seorang kaisar Romawi bertanya “Jadi kenapa kalian kalah?” maka seorang yang dituakan dari pasukan Romawi menjawab “Kami kalah disebabkan mereka sholat di malam hari, perpuasa di siang hari, meraka menepati janji, mengajarakan kepada perbuatan ma’ruf mencegah perbuatan haram, menyalahi janji, menjarah harta, berbuat kedzaliman, menyuruh kepada kemungkaran, melarang dari apa-apa yang di ridhoi Alloh dan berbuat kerusakan di bumi”. Mendengar jawaban itu Heraklius berkata “Engkau telah berkata benar.”
Setelah itu salah seorang Pendeta berkata, “Telah datang kepada kalian suatu kaum yang tak mungkin dapat kalian kalahkan.”
Belajar dari kisah tersebut, apa yang telah terjadi dunia saat ini tentu menjadi tanda bagi kaum Sufi. Langkah-langkah yang dilakukan kaum Thoriqoh masih memiliki kaitan erat dengan tugas yang telah diemban Pemimpin Umat Islam setelah wafatnya Nabi Muchammad SAW. Visi dan misi tersebut terus menyambung dan membentuk satu keselarasan, kaitan yang tidak terputus meski sempat berganti nama. Satu jalan yang berporos dari makna gelar Abu Bakar, Ash-Shiddiq yang berarti benar.
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur