ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Bung Karno, Arek Kelahiran Ploso - Jombang
30 Mei 2024 07:00
Raden Soekeni dan keluarga tinggal di Ploso pada 1901 hingga 1907, dan Soekarno kecil lahir pada 1902. Maka bisa disimpulkan bahwa Soekarno lahir di Ploso, Jombang.
Ini juga didukung oleh dokumen dari tulisan tangan Raden Soekeni, dan dokumen lain yang ditemukan dari tulisan Bung Karno sendiri. Yaitu di dalam Buku Induk atau rapor Bung Karno saat mendaftar kuliah di Technische Hogeschool (THS) Bandung. Di situ tertulis awal mula sekolah desa di Ploso/Djombang.
MASA KECIL SOEKARNO DI PLOSO
Kecamatan Ploso sejak abad 19, tepatnya sekitar pertenganan tahun 1800, sudah dikenal dengan desa yang banyak tumbuh ajaran Thoriqoh dan Tashawwuf. Hal ini dikarenakan setelah selesainya Perang Jawa, beberapa Ulama’ yang terlibat dalam perang memilih hijrah di daerah utara sungai Brantas Jombang untuk mendirikan pesantren-pesantren. Pendirian pesantren tersebut ditandai dengan dibangunnya mushola-mushola dan gubug-gubug, yang juga digunakan sebagai bentuk tanda syiar agama Islam. Dulunya daerah utara sungai Brantas Jombang dikenal sebagai masyarakat abangan—masyarakat yang tidak memiliki agama, masyarakat yang tidak mengetahui pentingnya nilai-nilai ajaran Islam.
Di daerah Ploso ada dua Pesantren yang banyak dikujungi masyarakat dari daerah lain, Pesantren itu adalah Pesantren Dung Turi yang didirikan Kyai Achmad Syuhada’ dan pesantren Jatirowo yang didirikan Kyai Achmad Zamrozi. Beliau berdua adalah Ulama’ sekaligus Mursyid Thoriqoh besar pada zamannya.
Kyai Achmad Syuhada' dan Kyai Achmad Zamrozi ini juga merupakan leluhur dari Kyai Moch. Mukhtar Mu'thi, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah yang berpusat di Ploso, Jombang. Kyai Achmad Syuhada' adalah kakek dari pihak ayah dan Kyai Achmad Zamrozi adalah buyut dari pihak ibu.
Maka dari itu, Soekarno kecil telah akrab dengan pendidikan yang bernafaskan ajaran Thoriqoh dan Tashawwuf. Hal ini diketahui karena ayahnya R. Soekeni juga menjadi murid Thoriqoh, menimba ilmu pada Kyai Muntoho yang merupakan Mursyid Thoriqoh Naqshabadiyyah dan Kyai Hajj Abdul Mu’thi, Mursyid Thoriqoh Samaniyyah.
Kyai Muntoho dan Kyai Hajj Abdul Mu'thi ini juga masih keluarga dari Kyai Moch. Mukhtar Mu'thi. Dimana Kyai Muntoho adalah suami dari Nyai Rum yang merupakan adik dari Kyai Mukhtar, dan Kyai Hajj Abdul Mu'thi adalah ayahanda dari Kyai Mukhtar.
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang
- Dari Zona 1 untuk Khususul Khusus: Ketika Satu Excavator Membawa Pesan Besar
- Bantuan Rumah Gratis di Tanggamus, Wujud Syukur Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Shiddiqiyyah Bangunkan Rumah Untuk Orang Tua Tunggal di Pati
- Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air