ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Opini & EsaiBung Karno, Arek Kelahiran Ploso - Jombang
· 5 menit baca
Raden Soekeni dan keluarga tinggal di Ploso pada 1901 hingga 1907, dan Soekarno kecil lahir pada 1902. Maka bisa disimpulkan bahwa Soekarno lahir di Ploso, Jombang.
Ini juga didukung oleh dokumen dari tulisan tangan Raden Soekeni, dan dokumen lain yang ditemukan dari tulisan Bung Karno sendiri. Yaitu di dalam Buku Induk atau rapor Bung Karno saat mendaftar kuliah di Technische Hogeschool (THS) Bandung. Di situ tertulis awal mula sekolah desa di Ploso/Djombang.
MASA KECIL SOEKARNO DI PLOSO
Kecamatan Ploso sejak abad 19, tepatnya sekitar pertenganan tahun 1800, sudah dikenal dengan desa yang banyak tumbuh ajaran Thoriqoh dan Tashawwuf. Hal ini dikarenakan setelah selesainya Perang Jawa, beberapa Ulama’ yang terlibat dalam perang memilih hijrah di daerah utara sungai Brantas Jombang untuk mendirikan pesantren-pesantren. Pendirian pesantren tersebut ditandai dengan dibangunnya mushola-mushola dan gubug-gubug, yang juga digunakan sebagai bentuk tanda syiar agama Islam. Dulunya daerah utara sungai Brantas Jombang dikenal sebagai masyarakat abangan—masyarakat yang tidak memiliki agama, masyarakat yang tidak mengetahui pentingnya nilai-nilai ajaran Islam.
Di daerah Ploso ada dua Pesantren yang banyak dikujungi masyarakat dari daerah lain, Pesantren itu adalah Pesantren Dung Turi yang didirikan Kyai Achmad Syuhada’ dan pesantren Jatirowo yang didirikan Kyai Achmad Zamrozi. Beliau berdua adalah Ulama’ sekaligus Mursyid Thoriqoh besar pada zamannya.
Kyai Achmad Syuhada' dan Kyai Achmad Zamrozi ini juga merupakan leluhur dari Kyai Moch. Mukhtar Mu'thi, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah yang berpusat di Ploso, Jombang. Kyai Achmad Syuhada' adalah kakek dari pihak ayah dan Kyai Achmad Zamrozi adalah buyut dari pihak ibu.
Maka dari itu, Soekarno kecil telah akrab dengan pendidikan yang bernafaskan ajaran Thoriqoh dan Tashawwuf. Hal ini diketahui karena ayahnya R. Soekeni juga menjadi murid Thoriqoh, menimba ilmu pada Kyai Muntoho yang merupakan Mursyid Thoriqoh Naqshabadiyyah dan Kyai Hajj Abdul Mu’thi, Mursyid Thoriqoh Samaniyyah.
Kyai Muntoho dan Kyai Hajj Abdul Mu'thi ini juga masih keluarga dari Kyai Moch. Mukhtar Mu'thi. Dimana Kyai Muntoho adalah suami dari Nyai Rum yang merupakan adik dari Kyai Mukhtar, dan Kyai Hajj Abdul Mu'thi adalah ayahanda dari Kyai Mukhtar.
- OPSHID Serahkan 7 Rumah Gratis Siap Ditempati
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945