Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Apa Hubungannya Peristiwa Isro’ Mi'roj Dengan Shiddiqiyyah? (Bagian 1)

01 Februari 2024 09:00

Apa Hubungannya Peristiwa Isro’ Mi'roj Dengan Shiddiqiyyah? (Bagian 1)

Artikel ini adalah bagian 1 dari 3 seri eksklusif Hari Shiddiqiyyah 1445 H. Nantikan bagian 2 dan 3 segera.

------

Umumnya, umat islam memperingati 27 Rojab sebagai hari Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW. Namun di Thoriqoh Shiddiqiyyah, tidak hanya itu. Di Shiddiqiyyah, 27 Rojab juga ditetapkan dan ditasyakkuri sebagai hari Shiddiqiyyah. Lantas apa hubungannya peristiwa Isro’ Mi’roj dengan Shiddiqiyyah? Dan bagaimana sejarahnya? 

SEJARAH THORIQOH SHIDDIQIYYAH

Thoriqoh Shiddiqiyyah berasal dari 2 kata, yakni Thoriqoh yang berarti jalan, dan Shiddiqiyyah yang berasal dari kata Shiddiq yang artinya benar.

Thoriqoh sendiri merupakan salah satu ajaran dalam agama Islam yang berfaham tashawuf. Jadi Thoriqoh Shiddiqiyyah adalah jalan/cara/metode untuk mencapai ma’rifatulloh dengan cara yang sebenar-benarnya.

Mengenai Sejarah Thoriqoh Shiddiqiyyah, tentu tidak bisa lepas dengan peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW. Dalam Mauidhohnya  Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah menceritakan saat Nabi Muhammad SAW di-isro’ kan dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqso (Palestina), kemudian dari Masjidil Aqso Rosul di-mi’roj kan ke Sidrotul Muntaha, diatasnya langit ke tujuh.

Selesai Mi’roj Rosul Kembali lagi ke Palestina dan Kembali ke Mekkah, kemudian Rosul menyampaikan peristiwa tersebut kepada umatnya, dari peristiwa tersebut menjadikan umatnya pecah menjadi 3 golongan. Ada yang tambah yaqin dengan Islam dan Rosul, ada yang ragu-ragu, dan ada yang murtad, keluar dari Islam.

Golongan yang yaqin akan peristiwa Isro’ Mi’roj dipelopori oleh Shohabat Abu Bakar. Beliau adalah orang pertama yang mempercayai dan membela kebenaran peristiwa Isro' Mi'roj. Maka turunlah gelar dari Alloh Ta’ala kepada Nabi Muhammad untuk diberikan kepada Shohabat Abu Bakar: As Shiddiq yang berarti benar/jujur.

Dan dari kata-kata Shiddiq itulah timbul menjadi Shiddiqiyyah.

Al Mukarrom Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, dalam Mauidhoh Hasanahnya pernah menerangkan bahwa Abu Bakar menerima gelar Shiddiq tersebut pada tanggal 27 Rojab. Itulah sebabnya mengapa tanggal 27 Rojab juga dijadikan sebagai hari Shiddiqiyyah.

Dari Shiddiq tersebut muncul Thoriqoh Shiddiqiyyah. Sumbernya dari:

  • Abu Bakar Shiddiq yang di bai’at langsung oleh Rosululloh SAW di gua Tsur.
  • Kemudian Abu Bakar Shiddiq Bai’at shohabat yang Namanya Salman Alfarizi.
  • Salman Alfarizi bai’at Sayyid Abil Qosim bin Abu Bakar Shiddiq
  • Sayyid Abil Qosim bin Abu Bakar Shiddiq bai’at Imam Ja’far Shodiq
  • Imam Ja’far Shodiq bai’at Yazid Busthomi dari Negri Busthom.

Dalam kitab Tanwirul Qulub yang disusun oleh Syeikh Muhammad Amin Al Qurdi Mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah di dalam bab “Adabul murid ma’a ikhwanihi halaman 539” beliau menerangkan bahwa nama silsilah itu berbeda-beda karena perbedaan waktu. Nama silsilah mulai Abu Bakar Shiddiq sampai dengan Syeikh Toifur bin Isa Abi Yazid Al Busthomi, Namanya Thoriqoh Shiddiqiyyah.

Dan Ketika dipimpin oleh Syeih Toifur bin Isa Abi Yazid Al Busthomi inilah Thoriqoh Shiddiqiyyah mengalami kejayaan di dua negara yaitu di Bustom Iran dan di Irbil Irak. Selanjutnya juga diterangkan bahwa setelah Syeikh Toifur bin Isa Abi Yazid Al Busthomi wafat (tahun 874 M), Thoriqoh Shiddiqiyyah mulai tenggelam, dikarenakan tertutup oleh nama-nama Thoriqoh yang lain. Seperti Thoriqoh Thoifuriyyah (nama Thoifuriyyah ini muncul setelah wafatnya Syeikh Thoifur bin Isa).

Setelah nama Thoriqoh Thoifuriyyah, muncul lagi Thoriqoh Khuwajikaniyyah, setelah itu muncul lagi Thoriqoh Kholidiyyah,Thoriqoh Mujaddiyah, Thoriqoh Naqsabandiyyah yang sentralnya ada di Negri Samarkand. Dan akhirnya nama Thoriqoh Shiddiqiyyah semakin tertutup-tertutup terus termasuk oleh nama Thoriqoh Qodiriyyah, Kholwatiyyah, Kubroniyyah, dan seterusnya hingga sampai 44 Thoriqoh.

Jadi menurut kitab Tanwirul Qulub, Thoriqoh yang paling awal adalah Shiddiqiyyah, kedua Thoifuriyyah, ketiga Khuwajikaniyyah, kemudia Kholidiyyah, Mujaddiyah, Naqsyabandiyyah, dan seterusnya. Lambat laun, nama Shiddiqiyyah akhirnya tenggelam oleh nama-nama Thoriqoh berikutnya sampai 1000 an tahun lebih, sehingga nama Shiddiqiyyah terlupakan bahkan sampai banyak yang mengatakan bahwa Thoriqoh Shiddiqiyyah tidak pernah ada.

Penulis: Nur Mika Sari

Editor: Sa’adatush S.