ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
27 Agustus 2026 09:00
Pada acara tersebut, Ibu Nyai Shofwatul Ummah dalam sambutannya mengingatkan para jama’ah untuk senantiasa bersyukur atas tiga nikmat besar yang bersamaan ada di bulan ini, di antaranya mensyukuri nikmat kelahiran Nabi Muchammad SAW, mensyukuri nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia, dan mensyukuri nikmat berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Puncak acara diisi dengan mau'idhotul chasanah oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi. Salah satunya beliau menyampaikan bahwa identitas paling menonjol dari Shiddiqiyyah adalah komitmen terhadap dua kalimat yang bersumber dari Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga: "Berkat Rochmat Alloh Yang Maha Kuasa".
"Yang paling menonjol dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah selama ini hanya ada satu, yaitu dua kalimat: satu kalimat Berkat dan dua kalimat Rochmat Alloh Yang Maha Kuasa. Tidak ada yang lain. dan kalimat itu saya ambil dalam Pembukaan UUD 1945 atau Piagam Jakarta 22 Juni yang bunyinya: Atas Berkat Rochmat Alloh yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas. Maka, rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
Lebih lanjut, beliau memberikan penegasan sejarah yang kritis mengenai perbedaan antara Bangsa dan Negara. Menurut beliau, yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah kemerdekaan Bangsa Indonesia, bukan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Jadi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia itu tidak ada, yang ada kemerdekaan bangsa Indonesia. negara Republik Indonesia ini tidak pernah dijajah oleh bangsa yang lain, ndak pernah.
Yang dijajah oleh Prancis, bangsa Indonesia. Yang dijajah oleh Inggris, bangsa Indonesia, bukan Republik Indonesia. Yang diajajah oleh Belanda selama 350 tahun, bangsa Indonesia bukan Republik. yang dijajah Jepang Bangsa Indonesia, bukan Negara Republik Indonesia. Wal hasil Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak pernah diajajah oleh bangsa lain sampai sekarang ini.
Jadi kalau ada di Indonesia, siapa saja yang berkata tanggal 17 Agustus 45, kemerdekaan Republik Indonesia, itu namanya salah letak keliru pasang. Letaknya kliru, pasangnya ya kliru. Tidak ada sumbernya, satupun sumber tidak ada. Kita maklum memang banyak yang mengucapkan salah letak keliru pasang, kita hanya menghormati saja, menghormati perbedaan tapi tidak berarti kita mengikutinya." pitutur Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Acara ditutup dengan ramah tamah. Adapun pesan utama dalam tasyakkuran ini adalah pentingnya meletakkan sesuatu pada tempatnya.Kemerdekaan sebagai takdir Alloh yang diraih melalui ikhtiar luhur bangsa, sekaligus ajakan untuk terus memupuk rasa syukur di tengah keberagaman bernegara. (OPSHID Media)
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak