Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kemerdekaan Indonesia Tak Hanya 17 Agustus, Ini Versi Lainnya dan Cara Shiddiqiyyah Mensyukurinya

27 Februari 2026 07:00

Kemerdekaan Indonesia Tak Hanya 17 Agustus, Ini Versi Lainnya dan Cara Shiddiqiyyah Mensyukurinya

Tak hanya syukuri kemerdekaan Indonesia berdasarkan penanggalan Masehi, Warga Shiddiqiyyah konsisten gelar tasyakkuran kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) selama dua hari berdasarkan penanggalan Hijriyyah pada Rabu-Kamis, (25-26/02/26 M atau 09-10/09/47 H).

IMG_2610.jpeg (734 KB)

Serangkaian doa syukur tak hanya berlangsung di Losari Ploso Jombang, pusat ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah berada, melainkan juga serentak dilaksanakan warga Shiddiqiyyah seluruh Indonesia Raya sebagai wujud syukur atas kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya NKRI serta pelestarian nilai-nilai sejarah yang memiliki sarat makna.

Pada hari kedua, pasca sesi rangkaian doa syukur diamalkan, acara dilanjutkan seremonial dengan rangkaian acara yang lebih formal, meliputi: sambutan, shodaqoh spontanitas dan mau'idhotul chasanah.

Sambutan disampaikan oleh Edi Setiawan perwakilan dari Forum Shillaturrochmi Bersama Organisasi di Shiddiqiyyah (FOSHBOSH). Dalam sambutannya, Edi Setiawan mengajak seluruh warga Shiddiqiyyah untuk senantiasa melestarikan budaya leluhur dan wajib untuk mencintai tanah air.

Edi juga menegaskan bahwa sampai detik ini satu-satunya pesantren dan organisasi yang mensyukuri kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI sebanyak 2 kali hanyalah Shiddiqiyyah. “Fakta! satu-satunya pesantren yang mensyukuri kemerdekaan Bangsa dan berdirinya NKRI yang tidak hanya Masehi tetapi juga Hijriyyah hanya Shiddiqiyyah”, tegasnya.

Kebersamaan semakin terasa dengan digelarnya shodaqoh spontanitas, sebuah tradisi yang rutin dilakukan warga Shiddiqiyyah ini berhasil mengumpulkan dana sebesar 15 juta rupiah.

IMG_2617.jpeg (574 KB)

Puncak acara yaitu Mau’idhotul Chasanah oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi. Beliau mengajak jama’ah Shiddiqiyyah menengok kembali ke pangkal sejarah, mengenai penetapan hari kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tahun 1945, bulan Agustus, tanggal 17, yang jatuh pada hari Jumat Legi dan bertepatan dengan bulan suci Romadlon, tanggal 9. Sebuah koordinat waktu—yang menurut Mursyid, bukanlah kebetulan semata.

Dalam sejarah yang disampaikan oleh Syekh Mukhtar, penetapan tanggal proklamasi ini dilatarbelakangi oleh petunjuk empat ulama dzawil bashori, yakni Hadrotus Syekh Hasyim Asyari dari Jombang, KH. Abdul Mu’thi dari Madiun, Ulama Tashawuf Syekh Musa dari Sukanegara, dan Sosro Kartono dari Jepara. Mereka, dengan mata batin dan kebijaksanaan, membaca takdir di balik deretan angka dan hari.

“Menurut keempat ulama tersebut, jika kemerdekaan Bangsa Indonesia tidak diproklamasikan pada hari Jumat Legi, 17 Agustus 1945, yang juga bertepatan dengan tanggal 9 bulan suci Romadlon, maka bangsa ini harus menunggu waktu yang tepat selama 300 tahun lagi," tutur Syekh Mukhtar, menggarisbawahi kedalaman spiritual di balik peristiwa penting ini.

Syekh Mukhtar turut mengajak seluruh warga Shiddiqiyyah untuk selalu mengingat sejarah penting penetapan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Tasyakuran ini menjadi simbol komitmen Shiddiqiyyah dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme yang berakar pada pemahaman sejarah dan ajaran agama, serta contoh nyata betapa pentingnya peran ulama’ dan umaro’ dalam membangun bangsa dan negara. (OPSHID MEDIA)

Penulis: Nuraida

Editor: Sa’adatush S.