Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Harlah ke-46 JKPHS: Doa dari Jombang untuk Kedamaian NKRI

25 Desember 2025 12:00

Harlah ke-46 JKPHS: Doa dari Jombang untuk Kedamaian NKRI

JOMBANG – Menjelang usia setengah abad, organisasi perempuan Jam'iyyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah (JKPHS) kian memantapkan langkahnya. Menginjak usia ke-46, organisasi ini menggelar Tasyakkuran dan Silaturrochmi di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, pada Rabu, 24 Desember 2025. Momentum ini bukan sekadar seremonial, melainkan mencakup pernyataan sikap atas kecintaan dan syukur terhadap tanah air Indonesia.

Sebagai organisasi yang mengamalkan "Do'a Kautsaran" yang disusun langsung oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi di dalam rangkaian bacaannya, terdapat untaian doa Nabi Ibrahim AS, sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Baqarah saat memintakan perlindungan dan keamanan bagi kota Mekkah ribuan tahun silam. Doa ini dipanjatkan dengan harapan agar keberkahan yang sama juga menaungi tanah air Indonesia, sebagaimana bunyi ayat berikut:

“Robbij‘al haadza baladan aaminawwarzuq ahlahu minats-tsamaroots man amana min-hum billahi wal-yaumil-akhir.”

Yang berarti: "Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekkah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Alloh dan hari Akhir.”

Manfaat Doa Kautsaran mecangkup dwifungsi baik secara pribadi maupun kebangsaan. Secara spesifik, ia digunakan sebagai sandaran spiritual dalam siklus kehidupan anggota, mulai dari doa sebelum menanam padi hingga permohonan kesembuhan. Namun, pada tatanan nasional, doa ini difungsikan sebagai ikhtiar kolektif untuk memohon agar Indonesia senantiasa ayem tentrem, rukun makmur, serta terhindar dari konflik kemanusiaan dan bencana alam.

Syukuran Hari Lahir ke-46 ini menjadi momentum bagi JKPHS untuk menunjukkan pencapaian mereka. Organisasi yang berawal dari perkumpulan sederhana ini kini tidak lagi dapat dipandang sebelah mata. JKPHS telah berkembang menjadi organisasi nasional yang memiliki 112 cabang, termasuk beberapa cabang di luar negeri. Struktur organisasi ini semakin mengakar kuat dengan rincian 225 anak cabang, 98 ranting, dan 11 anak ranting yang tersebar luas.

Peran perempuan dalam organisasi ini ditegaskan sebagai manifestasi dari perjuangan kaum ibu di Indonesia, sejalan dengan latar belakang Hari Ibu yang lahir dari Kongres Perempuan Pertama. JKPHS memposisikan diri sebagai wadah bagi para ibu yang tidak hanya melahirkan dan mendidik anak, tetapi juga turut serta memperjuangkan kemerdekaan dan kini berperan aktif dalam program sosial dan kemanusiaan.

Wujud nyata semangat ini tercermin dalam bakti sosial kali ini, di mana JKPHS memberikan santunan senilai Rp3 juta untuk 12 fakir miskin. Selain itu, pada malam acara tersebut berhasil terhimpun shodaqoh spontanitas mencapai lebih dari Rp8 juta.

Ketua Umum JKPHS, Ibu Pujiati, menyebut usia 46 tahun sebagai titik kemantapan bagi sebuah organisasi. Dalam berbagai hal, ia menekankan peran krusial kaum ibu sebagai penyukong utama perjuangan. “Ibu-ibu sebagai pendukung perjuangan bapak-bapak, dan mensupport pelestarian Thoriqoh Shiddiqiyyah saat ini,” ujarnya.

“Kalau manusia mencapai usia 46 tahun, itu adalah usia yang sudah mantap,” ujar Ibu Pujiati, menggarisbawahi kematangan dan stabilitas organisasi di usia ke-46.

Tasyakuran di Pesantren Majma'al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah ini menjadi simbol kemantapan langkah organisasi yang didirikan oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi. Menjelang usia setengah abad, JKPHS telah mengukuhkan diri sebagai organisasi berbasis spiritualitas yang memiliki dampak nyata bagi kemanusiaan.

Melalui Tasyakuran Hari Lahir ke-46 ini, JKPHS menegaskan komitmennya dalam memperkuat struktur organisasi di berbagai tingkatan sembari menjalankan misi sosial kemanusiaan dan spiritual. Harapannya, organisasi ini dapat terus berkembang luas di seluruh Nusantara bahkan hingga kancah dunia. (OPSHID Media)

 

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Nuraida