ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Tahtim THGB: Menyemai Semangat Cinta Tanah Air dan Adabin Chasanin
· 2 menit baca
JOMBANG – Lembaga pendidikan Tarbiyyah Hifdhul Ghulam Wal Banat (THGB) yang berpusat di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah melaksanakan Tahtim atau penutupan sementara kegiatan belajar-mengajar tahun ajaran 1445 H/2024 M - 1446 H/ 2025 M pada Isnen, 25 Sya’ban 1446 H/ 24 Februari 2025 M.
Acara tersebut diisi dengan berbagai kreativitas murid-murid THGB dari tingkat Paud hingga Bustanuts Tsalits (setara SMA). Kegiatan ini bertujuan untuk melatih mereka dalam menunjukkan bakat, membangun keberanian dan rasa percaya diri, serta meningkatkan keterampilan dalam berorganisasi. Setiap penampilan dan kegiatan yang dilakukan ditujukan untuk membentuk karakter, kedisiplinan, serta rasa tanggung jawab yang tinggi.
Ketua THGB, ibu Nyai Shofwatul Ummah dalam sambutannya menyampaikan, "Al Waaladu Tsamrotul Qolbi, dalam hadits nabi Muchammad Shollallohu ‘Alaihi Wassallam, artinya anak itu adalah buah hati. Kita harus yakin suatu ketika anak kita akan tumbuh sesuai yang kita harapkan, anak yang qolbin salim atau anak yang abdan syakuro. Kalau sudah menjadi abdan syakuro insyaAlloh semuanya akan menjadi baik sampai kapanpun. Anak yang dewasa juga harus terus Tholabul Ilmi dimanapun kita berada sampai kapanpun.”
Semua murid yang tengah menempuh pendidikan di Tarbiyyah Hifdhul Ghulam Wal Banat dan alumnus yang tergabung dalam organisasi Al Ikhwan dapat dipastikan menerima ilmu Cinta Tanah Air agar generasi penerus bangsa Indonesia supaya betul-betul memahami bagaimana caranya mencintai tanah airnya. Karena pendidikan Chubbul Wathon (cinta tanah air) erat kaitannya dengan Iman, dan sebagai bentuk syukur manusia kepada Sang Pencipta.
Ibu Nyai Shof menyampaikan satu hadits lagi “Qoola Rosulullohi Shollallohu ‘Alaihi Wassallam: Mana khala walidun waladahu afdholu min adabin khasanin, tidak ada warisan bagi orang tua kepada anaknya yang paling utama melainkan dari warisan adab yang baik.”
Pada puncak acara, Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi memberikan keterangan yang diawali dengan mengutip kalimat dalam surat Luqman, “Usykuri waliwalidaika (bersyukurlah kamu kepada Saya (Alloh) dan bersyukurlah kamu kepada dua orang tuamu”.
Beliau melanjutkan, “Jadi bersyukur kepada dua orang tua itu bapak-ibu. Tingkatannya dalam surat Luqman di atas, syukur kepada Alloh. Bagaimanapun tingginya, tiap tiap manusia yg menuntut ilmu mesti mempunyai dua bapak, dua ibu. Bapak yang pertama, ibu yang pertama, ibu yang melahirkan anak dengan wanan ala wahnin, susah di atas kesusahan. Qurhan ala qurhin sulit di atas kesulitan. Susah ibu kita naliko ngelahiraken kita, susahnya luar biasa. Tidak mungkin anak bisa membalas kebaikannya ibu kita. (Yang kedua) ibu ilmu, di dalam pendidikan namanya ustadz ustadzah, bapak guru ibu guru. Di dalam semboyan bahasa Arab, semboyan dari ulama' Tashawwuf disebutkan 'taatlah kamu kepada bapak guru ibu guru sebagimana kamu mencintai dua orang tuamu yang melahirkan kamu'. Semboyan dari ulama' tashawwuf ditujukan bakti kepada bapak guru, ibu guru.”
Dengan digelarnya acara tahtim ini merupakan tanda bahwa libur panjang di sekolah THGB telah tiba, para murid-murid yang berasal dari berbagai daerah mulai meninggalkan Pesantren satu persatu untuk bertemu keluarga dan menikmati masa liburnya. Dengan begitu harapanya anak-anak dapat mengamalkan ilmu-ilmu yang telah diterima saat belajar di THGB salah satunya tentang adabin chasanin (adab yang baik). (OPSHID Media)
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari