ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kiriman PembacaSebelum Republik Berdiri, Indonesia Raya Sudah Menggema
· 3 menit baca · Diperbarui
DARI RUANG KONGRES KE KEHIDUPAN SEBUAH BANGSA
Sesudah kemerdekaan, Indonesia Raya berkembang menjadi lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu yang pernah diperdengarkan dalam sebuah kongres pemuda itu kemudian menjadi bagian dari upacara kenegaraan, pendidikan, peringatan nasional, dan berbagai peristiwa publik.
Perjalanannya memperlihatkan bagaimana simbol dapat hidup melampaui peristiwa yang melahirkannya.
Namun, simbol kebangsaan tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan bangsa.
Indonesia tetap merupakan negara yang sangat beragam. Data BPS mengenai suku dan bahasa daerah mencatat lebih dari 1.200 kelompok suku dan ratusan bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Artinya, persatuan Indonesia selalu membutuhkan lebih dari satu simbol. Ia memerlukan komunikasi yang dapat menjangkau seluruh warga, ruang politik yang menerima perbedaan, dan kehidupan bersama yang memberi tempat bagi identitas lokal.
Lagu kebangsaan dapat mengingatkan kita pada cita-cita itu. Tetapi cita-cita tersebut harus diwujudkan dalam tindakan.
APA YANG KITA DENGAR KETIKA INDONESIA DINYANYIKAN?
Ketika lagu kebangsaan dikumandangkan, kita sering mengingat kewajiban untuk berdiri tegak dan menyanyikannya dengan khidmat.
Namun, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah kita masih mendengar gagasan yang dahulu dibawa lagu itu?
Indonesia Raya lahir dalam masa ketika Indonesia belum menjadi negara merdeka. Ia mengiringi sebuah gerakan yang sedang membayangkan kehidupan bersama di luar batas-batas kolonial dan identitas kedaerahan.
Karena itu, lagu tersebut bukan hanya pengiring upacara. Ia juga pengingat bahwa Indonesia pernah menjadi cita-cita yang harus diperjuangkan sebelum menjadi kenyataan.
Setiap kali lagu itu dinyanyikan, kita dapat bertanya apakah persatuan yang dahulu dibayangkan para pemuda masih tercermin dalam cara kita memperlakukan sesama warga.
Apakah perbedaan menjadi kekayaan atau alasan untuk saling menjauh? Apakah bahasa persatuan membuat kita lebih mudah memahami satu sama lain? Apakah setiap warga merasa memiliki tempat dalam rumah kebangsaan ini?
Sebuah lagu tidak dapat menjawab semua pertanyaan itu. Tetapi ia dapat mengingatkan kita mengapa pertanyaan tersebut penting.
Sebelum Republik berdiri, Indonesia Raya sudah menggema. Tugas generasi berikutnya bukan sekadar mengulang melodinya, melainkan menjaga agar cita-cita yang dibawanya tidak berhenti sebagai kenangan.
Penulis: Windu Haribadi
=======
Resonansi Pembaca adalah rubrik tulisan pembaca OPSHID Media. Apabila anda tertarik untuk mendaftarkan tulisan anda untuk mendapat peluang diterbitkan di OPSHID Media, berikut tata caranya:
1) Kirimkan file tulisan anda dalam bentuk lampiran file doc.
2) Sertakan data diri anda berupa: nama, alamat, dan no. hp.
3) Foto/gambar referensi dari tulisan, bila ada.
Kirim ke alamat email berikut: opshidmedia@gmail.com atau saadatush@opshid.net
- Sebelum Republik Berdiri, Indonesia Raya Sudah Menggema
- OPSHID Serahkan 7 Rumah Gratis Siap Ditempati
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin