Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Yatimin: Menghuni Rumah Reyot di Tengah Kepadatan Rumah Megah

24 Oktober 2024 17:00

Yatimin: Menghuni Rumah Reyot di Tengah Kepadatan Rumah Megah

Hidup Mengontrak di Lahan Orang Lain

Sepanjang hidupnya, Mbah Min tak pernah merasakan tinggal di rumah layak huni, apalagi memiliki tanah sendiri. Hingga akhirnya, ia diberi sebidang tanah di lingkungan sekolah berukuran 3x5 meter. Dengan segala keterbatasannya, ia membangun rumah sederhana itu. “Ditempatin 5 orang, dulu masih lengkap: ibu, bapak, saya, dan dua kakak yang belum menikah,” ujar Marianto.

Beberapa tahun kemudian, setelah pergantian kepala yayasan, Mbah Min diminta pindah dan diberi uang untuk menyewa tempat lain. “Saya disuruh pindah dan diberi uang untuk mengontrak rumah di jalan tikungan, yang dulunya rumah panggung karena daerahnya masih rawa”, jelas Mbah Min.

Seiring berjalannya waktu, tanah kontrakan Mbah Min dibeli perusahaan dan digusur karena posisinya di jalan yang telah dipetakan. Sebagai gantinya, Mbah Min diberi tanah berukuran 6x3 meter dan dibangunkan rumah berbahan triplek beratap seng, namun ia harus mengurus surat kepemilikan tanahnya sendiri.

20241023_102130_0001.webp (1.56 MB)

Awalnya, rumah Mbah Min adalah yang pertama di lingkungan itu. Namun seiring perkembangan waktu, daerah sekitarnya menjadi padat dengan rumah-rumah besar, sementara rumah Mbah Min tetap sama; sempit tanpa sekat dengan atap seng berlubang sering bocor. “Kalau hujan, kasur dan bantal langsung basah. Jika hujan deras, kami menyelamatkan barang-barang dan menutup yang bocor dengan terpal,” kata Marianto menjelaskan kondisi rumah mereka.

Meskipun rumahnya yang paling kecil dan dikelilingi bangunan megah, Mbah Min tetap menerima keadaannya dengan ikhlas. “Prinsipnya, tidak boleh bilang kurang. Alchamdulillah, diterima. InsyaAlloh, yang Kuasa akan memberi lagi”, ucapnya dengan tabah.

Di usia tua dengan penyakit yang sering kambuh, Mbah Min kini hanya menanam pohon pisang di sisa lahan gang rumahnya untuk dijual kepada tetangga. “Sekarang sudah tidak kuat, sakit tidak karuan. Jadi, saya tanam pisang saja, untuk tambahan uang. Harganya seadanya, kan panennya juga tidak tentu”, terang Mbah Min.

Sebelumnya, sumber penghasilan utama hanya berasal dari Marianto, namun ia baru saja di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) sebagai petugas kebersihan di sekolah akibat pergantian kepala perusahaan. Sudah 8 tahun bekerja dari pagi hingga sore dengan gaji 1,8 juta per bulan, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sesekali, tetangga juga menyumbang sembako untuk membantu.

Memenuhi kebutuhan makan saja terasa begitu sulit, lantas bagaimana mereka bisa memperbaiki rumahnya agar lebih layak dihuni?

Melihat rumahnya yang semakin rapuh, Marianto berencana untuk membenahi. Namun, usaha menyisihkan uang selalu terhambat oleh kebutuhan lain, membuatnya terpaksa mengurungkan niatnya. “Tadinya mau ditembok bagian depan rumah, tapi dananya tidak cukup, jadi sementara ini belum bisa dilakukan,” ujarnya dengan suara penuh harapan.

Penulis: Jauharotun Naaja

Editor: Nuraida