Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Yatimin: Menghuni Rumah Reyot di Tengah Kepadatan Rumah Megah

24 Oktober 2024 17:00

Yatimin: Menghuni Rumah Reyot di Tengah Kepadatan Rumah Megah

“Karena dulu rasanya seperti dijajah. Dibangunkan rumah berarti aku sudah Merdeka. Begitu dibangunkan beneran, ya ini Merdeka!”, ungkapnya bahagia, merasakan kemerdekaan dengan hadirnya Rumah Syukur Layak Huni.

Surabaya - Meski Indonesia telah merdeka, tidak semua warganya menikmati kemerdekaan itu sepenuhnya. Yatimin akrab dipanggil Mbah Min, lahir tahun 1945, beliau merasakan pahitnya memperjuangkan hidup bahkan setelah proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia. 

Sejak muda, ia menghadapi berbagai masalah, mulai dari pekerjaan yang tidak stabil hingga rumah tangga yang hancur, dan harus berpindah-pindah tanpa pernah memiliki rumah layak huni. Kini, di usia senjanya, Mbah Min masih terbelenggu oleh ketidaklayakan hidup yang menghimpitnya selama bertahun-tahun.

PAHITNYA HIDUP DI MASA ITU

Pada tahun 1963, Mbah Min bekerja di bidang konstruksi dan pengelasan di Djawatan Kereta Api (DKA), kini disebut PT. Kereta Api Indonesia (KAI), dengan penghasilan 300 ribu rupiah yang anjlok menjadi 30 ribu rupiah per bulan akibat krisis nilai tukar.

Suatu ketika Mbah Min terjebak dalam kekacauan Surabaya akibat pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI), keadaan memaksa warga mengungsi dan kehilangan pekerjaan, termasuk Mbah Min. “Di DKA, saya tidak dipecat, tetapi karena G30S/PKI. Malam ada penculikan, siang ada perlawanan. Situasi sangat kacau, setiap hari ada yang mati,” ucap Mbah Min mengingat pedihnya hari itu.

Tak lama kemudian, terjadi konfrontasi antara Indonesia-Malaysia, karena pernah bekerja sebagai pegawai, Mbah Min diminta bergabung sebagai relawan tim medis Palang Merah Indonesia (PMI). Ia bertugas memberikan pelayanan kesehatan untuk mendukung tentara yang terlibat dalam operasi militer di Kalimantan. “Dulu, pegawai pemerintah harus yang muda memperjuangkan negara. Setelah DKA, saya menjadi relawan di Kalimantan. Masuk ke tim medis KKO (Komando Kesiapsiagaan Operasi) TNI Angkatan Laut dan tugasnya mengobati tentara yang sakit atau terluka”, kenangnya.

Setelahnya, Mbah Min mencari pekerjaan lain di bidang konstruksi pengelasan. Bertahun-tahun bekerja keras, ia jatuh sakit dan didiagnosis kencing manis tepat saat terjadi pandemi COVID-19. Ia kesulitan mengakses pemeriksaan medis, meski dokumennya lengkap, dokter menolak menindaklanjuti kondisinya, membuatnya merasa diabaikan. Tanpa perawatan, Mbah Min terpaksa bolak-balik ke apotik untuk membeli obat. lima percobaan dengan obat berbeda, akhirnya ia menemukan obat yang cocok.

Saat ini, Mbah Min tinggal bersama anak bungsunya, Marianto. Dari 13 anaknya, sebagian besar telah menikah dan merantau. Ia menikah dua kali, pernikahan pertamanya penuh konflik karena istrinya terlibat hubungan gelap dan menghabiskan harta benda keluarga sehingga Mbah Min memutuskan untuk bercerai. “Kehidupan rumah tangga itu ngeri, tidak semua menguntungkan,” ujarnya. Istri keduanya meninggal 13 tahun yang lalu, meninggalkan Mbah Min berjuang seorang diri demi anak-anak.

Penulis: Jauharotun Naaja

Editor: Nuraida