ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Bukan Bedah Rumah, Rumah Syukur Itu Totalitas (Bagian III)
16 Oktober 2023 09:00

Umumnya, setiap penerima bantuan program bedah rumah akan menerima bantuan dengan kisaran nilai sekitar Rp 20.000.000 untuk peningkatan kualitas rumahnya. Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk membeli bahan bangunan Rp 17.500.000 dan sisanya Rp 2.500.000 juta untuk upah tenaga kerja. Namun sudah maksimalkah hanya dengan memberikan dana bantuan dengan total nilai Rp 20.000.000,- kepada penerima bantuan?
Faktanya untuk bangun satu rumah saja membutuhkan dana minimal Rp 80.000.000 hingga Rp 100.000.000. Maka bisa disimpulkan bahwa hanya dengan menyediakan dana senilai Rp 20.000.000, bisa dikatakan pembangunan tidak akan maksimal. Karena demikian, banyak dijumpai rumah hasil dari program bedah rumah tampak sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan padahal belum lama sejak pembangunan bedah rumah.
Tak jarang juga, penerima yang harusnya terbantu justru merasa makin terbebani. Karena untuk melanjutkan pembangunan yang belum rampung dan terkesan setengah-setengah itu, penerima bantuan harus merogoh kocek lebih dalam.
Seperti salah satu calon penerima Rumah Syukur daerah Mojokerto Ibu Endah, beliau sering menerima tawaran untuk dibangunkan rumah tapi tidak pernah diterima karena takut setelahnya dibebankan kepadanya, sebab untuk memikirkan biaya sehari-hari saja mereka sulit apalagi memikirkan biaya membangun rumah.
Contoh lain adalah Bapak Karnianto, penerima Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah daerah Ngawi yang juga pernah merasakan hal serupa. Beliau sempat menerima bantuan bedah rumah dari salah satu instansi pemerintah, namun dari pihak peneyelenggara hanya bertanggung jawab membayari tukang selama 5 hari. Setelahnya penerimalah yang harus menanggung biaya tenaga kerjanya. Akhirnya tidak dilanjutkan karena kurangnya biaya. “Jadi sebenarnya membuat bebannya orang kecil, atau meringankan bebannya orang kecil?”, tegas beliau.
Serupa tapi tak sama, Ibu Imaroh penerima Rumah Syukur daerah Salatiga pada tahun 2022, awalnya merasa ragu ketika tau akan dibangunkan rumah oleh OPSHID, karena memiliki trauma akan bantuan pembangunan rumah. Dulunya beliau pernah diperbaiki rumahnya oleh program bedah rumah namun belum rampung pembangunan lagi-lagi pihak penyelenggara lepas tangan tanpa peduli kondisi keuangan penerima rumah. Mau tak mau, penerimalah yang harus melanjutkan pembangunan dengan berat hati kendati sulit keadaan ekonominya.
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan