Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Opini & Esai

Rumah Syukur OPSHID Dari Masa Ke Masa: 507 Rumah Gratis, 39 Miliar Rupiah

· 6 menit baca · Diperbarui

Rumah Syukur OPSHID Dari Masa Ke Masa: 507 Rumah Gratis, 39 Miliar Rupiah

Seperti rumah syukur milik ibu Iin Tafrichan yang diresmikan Agustus 2026. Rumah berukuran 8 × 14 m², dibangun untuk keluarga yang dihuni enam orang. Bangunan terdiri dari empat kamar tidur, tiga kamar mandi, ruang makan, ruang tamu, dapur, dan ruang usaha di bagian depan dan mendominasi tampak depan rumah. Juga dilengkapi perabotan rumah tangga, lampu smart LED, serta smart TV. Selengkapnya baca: Serah Terima Rumah Syukur Kemerdekaan Unit ke-136, OPSHID Bangun Dengan Desain Berbeda

Contoh lain ialah Rumah Syukur milik Setyo Utomo di Gunungkidul, Yogyakarta, yang dibangun pada tahun 2024. Rumah tersebut dilengkapi fasilitas kamar kos yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan tambahan. Penyediaan fasilitas ini menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, desain rumah dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan peluang usaha penerima. Selengkapnya baca: Bangun Rumah Beserta Kos-Kosan Penambah Rezeki

Dampak Rumah Syukur dapat dilihat lebih jauh melalui perubahan kehidupan para penerima setelah menempati rumah baru. Hunian yang layak dapat memberikan kenyamanan bagi keluarga, sedangkan ruang usaha pada unit tertentu membuka peluang untuk menambah penghasilan. Meski dampak yang dirasakan setiap keluarga tidak selalu sama, pengalaman para penerima dapat memberikan gambaran mengenai manfaat program di luar pembangunan fisik.

Salah satu kisah yang dapat diangkat ialah pengalaman Ibu Suliyasih, penerima Rumah Syukur di Diwek, Jombang, pada 2012, yang berhasil mengantarkan dua anaknya hingga ke bangku kuliah. Selengkapnya baca: Penerima Rumah Gratis OPSHID Tahun 2012 Berhasil Kuliahkan Anaknya 

Pengembangan tersebut tidak berarti setiap rumah harus memiliki fasilitas usaha yang sama. Kebutuhan setiap keluarga berbeda, sehingga bentuk dan fasilitas bangunan dapat disesuaikan dengan kondisi penerima serta pertimbangan pembangunan. Namun, penyediaan ruang usaha pada unit tertentu memperlihatkan bahwa Rumah Syukur tidak hanya berorientasi pada kebutuhan hunian, tetapi juga mempertimbangkan kemungkinan peningkatan kesejahteraan keluarga.

Dari 32 unit pada tahun pertama hingga 103 unit pada 2025, perkembangan rumah syukur tidak hanya menunjukkan pertumbuhan jumlah pembangunan, tetapi juga keberlanjutan sebuah gerakan kemanusiaan. Melalui Rumah Syukur, OPSHID berupaya menjaga agar pengabdian tidak berhenti pada satu momentum, melainkan terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan generasi berikutnya. (OPSHID Media)

Tulisan ini merupakan opini/esai penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi OPSHID Media.

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.