ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
23 Mei 2026 17:00
Meskipun dari ajaran keduanya memiliki banyak kemiripan dalam dimensi praktis, tetapi terdapat batas-batas epistemologis yang sangat tegas yang membedakan antara keduanya.
- Stoikisme berpusat pada rasio, logika, dan pikiran manusia (logos). Tasawuf berpusat pada hati (Qolbu), ruh, dan pengendalian jiwa.
- Stoikisme bersifat horizontal (Antroposentris) berhenti pada kesehatan mental dan ketenangan dunia. Tasawuf bersifat Vertikal dan transenden (Teosentris). Ketenangan dicapai melalui hubungan dengan Alloh.
- Stoikisme ketangguhan mental secara mandiri (Self-sufficiency). Tasawuf kedekatan kepada sang Khalik (Ma’rifatulloh) dan menggapai ridho-Nya.
Di dalam Tasawuf, penyucian jiwa tidak boleh terjebak sekadar menjadi estetika spiritual atau tren kesehatan mental belaka. Tasawuf menegaskan bahwa ketenangan batin adalah produk sampingan dari kedekatan makhluk dengan Penciptanya. Allah SWT menegaskan hal ini dalam firman-Nya:
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra’du/28).
Popularitas Stoikisme dan tren minimalisme di era digital modern membuktikan bahwa manusia modern tengah mengalami dahaga spiritual dan membutuhkan jangkar emosional untuk menghadapi disrupsi informasi. Stoikisme menawarkan metodologi praktis yang sangat baik untuk melatih ketahanan mental.
Namun, bagi seorang muslim, tasawuf dinilai jauh lebih relevan karena ia tidak hanya memberikan ketenangan di ranah kognitif dan psikologis (horizontal), melainkan juga mengikat ketenangan tersebut dengan aspek ketuhanan yang transenden (vertikal) melalui integrasi sabar, ridho, zuhud, dan zikir. Tasawuf mengubah manajemen stres menjadi bentuk ibadah yang menghantarkan manusia pada kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.
========
Bersumber dari:
-Jurnal UNESA, Kesehatan Mental Remaja di Era Media Sosial Antara Tren Digital dan Krisis Emosional https://agridigi.fkp.unesa.ac.id/post/kesehatan-mental-remaja-di-era-media-sosial-antara-tren-digital-dan-krisis-emosional
- Jurnal UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Tasawuf Yang Juga Dikenal Sebagai Sufisme,https://share.google/Mpywme6otrgzD
- Jurnal UIN Syekh Wasil Kediri, Keterkaitan Konsep Tawakal dalam Islam dan Filsafat Stoikisme https://share.google/nIBiKB9mFaj7ey
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak