ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
27 April 2026 17:00
PELAJARAN KETAHANAN PANGAN DARI DESA
Pertanyaan lama kembali muncul: apakah ketahanan pangan cukup tanpa kedaulatan? Ketahanan berbicara tentang ketersediaan, tetapi kedaulatan menyentuh kendali. Tanpa kendali, ketahanan mudah goyah—terutama dalam dunia yang saling terhubung tetapi tidak setara.
Namun di tengah kerentanan itu, ada ironi lain yang lebih sunyi: desa, yang sering dianggap tertinggal, justru dalam banyak kasus lebih tahan terhadap guncangan pangan.
Dampak krisis pangan global terhadap masyarakat pedesaan cenderung tidak sekeras masyarakat perkotaan. Alasannya bukan karena mereka kebal, tetapi karena mereka lebih dekat dengan sumber pangan itu sendiri. Sebagian rumah tangga desa masih memproduksi bahan makanan—baik dari sawah, kebun, maupun pekarangan. Ketergantungan terhadap pasar, meski ada, tidak sepenuhnya dominan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan bahwa proporsi konsumsi pangan dari hasil produksi sendiri masih signifikan di pedesaan. Selain itu, ketika inflasi pangan meningkat, tekanan pengeluaran rumah tangga di kota cenderung lebih tinggi dibanding desa. Artinya, guncangan harga lebih cepat dirasakan oleh mereka yang sepenuhnya bergantung pada pasar.
Dalam laporan resmi FAO dan IFAD Rural Development Report 2021 tentang sistem pangan menegaskan bahwa rumah tangga pertanian kecil memiliki mekanisme adaptasi yang khas. Mereka tidak hanya mengandalkan satu jenis komoditas, tetapi melakukan diversifikasi: menanam padi, umbi-umbian, sayur, dan memanfaatkan sumber lokal lain. Pola ini menciptakan bantalan alami terhadap krisis.
Banyak desa di Indonesia yang mayoritas profesi penduduknya adalah petani. Tak sedikit pula yang menanam padi bukan untuk dijual, tapi untuk konsumsi rumah tangga sendiri. Sebagian disimpan dalam bentuk gabah untuk memperpanjang waktu simpannya. Sehingga, cadangan beras untuk satu keluarga melimpah dan aman untuk jatah selama beberapa bulan hingga setahun ke depan.
Namun tidak hanya bertumpu pada satu komoditas saja, masyarakat desa juga masih bisa bertahan hidup dengan jagung, singkong, ubi, hingga kentang hasil kebun sendiri. Banyak variasi makanan pokok yang bisa menjadi alternatif untuk menjaga keberlangsungan pangan. Ini bukan sekadar pilihan ekonomi, tetapi juga kultur lokal yang sudah dilakukan turun temurun, yang secara tak langsung memperkuat ketahanan pangan.
Sebaliknya, masyarakat perkotaan hidup dalam ketergantungan penuh pada rantai distribusi. Ketika pasokan terganggu atau harga melonjak, dampaknya langsung terasa. Tidak ada ladang di balik rumah, tidak ada kebun sebagai cadangan. Semua bergantung pada pasar—dan pasar bergantung pada stabilitas yang seringkali rapuh.
Tentu, desa bukan tanpa masalah. Kelemahan ekonomi, keterbatasan infrastruktur, dan perubahan iklim tetap menjadi ancaman. Namun dalam konteks krisis pangan global, ada satu pelajaran yang tak bisa diabaikan: kedekatan dengan sumber produksi menciptakan daya tahan.
Di tengah dunia yang sibuk mengamankan stok dan memainkan harga, desa menunjukkan sesuatu yang lebih sederhana—bahwa ketahanan tidak selalu lahir dari kekuatan besar, tetapi dari kemandirian yang dekat dengan tanah.
Karena pada akhirnya, ketika rantai pasok terguncang dan harga melambung, yang paling bertahan bukanlah yang paling kuat dalam negosiasi global—melainkan yang paling mampu menanam, memanen, dan memenuhi kebutuhannya sendiri. (OPSHID Media)
======
Sumber:
- Kementerian Pertanian RI. (2023). Data Lahan Pertanian Indonesia.
- Laporan IFAD (2021): Transforming Food Systems for Rural Prosperity.
- Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Statistik Impor Indonesia & Susenas (Pola Konsumsi Rumah Tangga).
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon