ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Ketika Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Penegak Hukum Meminta Nasihat Pada Mursyid
21 Agustus 2025 07:00

MURSYID THORIQOH SHIDDIQIYYAH: RUJUKAN SPIRITUAL PARA PEMIMPIN
Tak hanya sekali-dua kali, para pemangku jabatan di Indonesia ini menghadap kepada Syekh Mukhtar di Pesantren Shiddiqiyyah Losari - Ploso - Jombang, untuk shillaturrochmi atau meminta arahan.
Joko Widodo atau Jokowi tercatat dua kali menghadap kepada Syekh Mukhtar, sebelum dan sesudah diangkat menjadi Presiden RI. Pertama pada 28 Juni 2014, dalam suatu rangkaian perjalanan ke berbagai pondok Pesantren di Jawa Timur, Jokowi yang saat itu masih merupakan calon Presiden RI periode 2014-2019 mengunjungi Pesantren Shiddiqiyyah. Terang darinya pada saat wawancara dengan media, tujuannya adalah “meminta do’a restu.”
Kunjungan kedua pada 1 Agustus 2015, saat Jokowi sudah menjabat sebagai Presiden RI. Bertepatan dengan pembukaan Muktamar Nahdlatul Ulama’ ke - 33, Jokowi menghadap kepada Syekh Mukhtar. Pertemuan berlangsung di Hotel Yusro, Jombang. Pada kesempatan itu, Syekh Mukhtar berpesan pada pak presiden bahwa: “Rakyat Indonesia ingin memiliki, menikmati, dan mensyukuri Indonesia”.
Selengkapnya mengenai pesan ini, baca pada jurnal berikut:
Rakyat Indonesia Ingin Memiliki, Menikmati, dan Mensyukuri Indonesia
Pertemuan tersebut bersifat privat tanpa ada media yang meliput. Pada berbagai acara berikutnya barulah Syekh Mukhtar bertutur kepada warga Shiddiqiyyah bahwa seperti itulah pesan dari Syekh Mukhtar kepada Jokowi.
Kemudian Prabowo Subianto yang saat ini sudah menjabat sebagai Presiden Ri periode 2024-2029, juga pernah berkunjung kepada Syekh Mukhtar pada masa kampanyenya saat pencalonan Presiden RI periode 2019-2024. Tepatnya pada Minggu, 24 Februari 2019, Prabowo didampingi Wakil Ketua Umum Gerindra Sugiono dan juga Rachmawati Soekarnoputri, tiba di Pesantren Shiddiqiyyah. Pesan yang didapat oleh Prabowo pada pertemuan itu di antaranya adalah: “Indonesia butuh pemimpin yang bisa memimpin pembangunan Indonesia, tidak membutuhkan pemimpin yang membangun di Indonesia”.
Selengkapnya mengenai pesan ini, baca pada jurnal berikut:
Hai Pak Prabowo, Jadilah Pemimpin Yang Membangun Indonesia, Bukan Membangun di Indonesia!
Dikutip dari Kompas.com, begini komentar Prabowo tentang Shiddiqiyyah kala kunjungan tersebut: "Saya lihat, pesantren ini bukan main nilai kebangsaan yang dipertahankan. Saya mantan tentara, mantan prajurit, mantan TNI, waktu dulu kita memandang bahwa sekolah-sekolah TNI yang paling nasionalis dan paling kebangsaan, ternyata Pesantren ini tidak kalah.”

- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan