Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Tasyakkuran Peresmian Gedung Miftaachul Barokah Buchur, Amal Barokah untuk Indonesia Raya

29 Maret 2024 17:00

Tasyakkuran Peresmian Gedung Miftaachul Barokah Buchur, Amal Barokah untuk Indonesia Raya

JOMBANG – Pelajaran dan bimbingan merupakan hal yang sering dicari dan didambakan, terutama dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah. Banyaknya pelajaran oleh Sang Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Al Mukarrom Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi Syekh Mukhtarulloh Al Mujtabaa, khususnya kepada warga Shiddiqiyyah menjadi hal yang diharapkan untuk selalu ada. Dan salah satu dari pelajaran-pelajaran tersebut adalah pelajaran Buchur.

Pada hari Kamis Wage (28/03/2024), telah dilaksanakan Tasyakuran dan Peresmian Gedung Miftaachul Barokah Buchur, yang mana dihadiri oleh Sang Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah untuk prosesi penandatanganan prasasti gedung, do’a tasyakkuran, dan Mauidhoh Chasanah tentang rahasia Buchur dan barokah. Acara ini berlokasi di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah Pusat.

Buchur ialah amalan yang menggunakan alat sebagai media pengamalannya. Bapak Djamal Abdul Naser selaku Humas Ketahanan Thoriqoh Shiddiqiyyah menjelaskan tentang Buchur dan manfaat barokahnya, “Buchur itu serbuk kayu yang dibentuk kerucut lalu dibakar, manfaatnya barokah dari bumi dan langit bertemu, barokah yang mengamalkan ini, kalau semua (tahapannya) dilaksanakan akan membarokahi Indonesia Raya.”

Menurut Bapak Djamal, bimbingan Buchur ini awalnya adalah pelajaran, bukan bimbingan, “Setahu saya di Shiddiqiyyah ada 2, pelajaran dan bimbingan. Kalau bimbingan sifatnya boleh diambil atau tidak, Sang Guru dawuh ini pelajaran buchur, pelajaran wajib diambil.” Namun sekarang buchur lebih sering disebut sebagai bimbingan, “Dinamakan bimbingan sebab yang mengajarkan bukan beliau (Sang Mursyid) lagi, untuk sekarang ada petugasnya”, jelas Bapak Djamal.

Awalnya Buchur ini diajarkan oleh Sang Mursyid langsung sebanyak 10 gelombang dengan jumlah 9.000 peserta. “Pelajaran Buchur yang diajarkan baru 10 gelombang, di Hotel Yusro. 1 gelombang ada 900, jadi kalau 10 geombang ada 9.000. Terus yang lain (yang ingin mengikuti) gimana? Sang Guru menyampaikan untuk memberikan bimbingan Buchur digabung amalan garam”, terang Bapak Djamal.

Jadi amalan Buchur saat ini digabung dengan amalan garam sesuai arahan Sang Mursyid, dan yang ingin mengikuti di luar 10 gelombang awal telah disiapkan petugasnya, walaupun penyampaiannya tidak sama dengan yang disampaikan Sang Guru.

Amalan Buchur ini sama sekali berbeda dengan dupa, “Di Shiddiqiyyah tidak kenal dupa, sesuai dengan ajaran Islam”, tegas Bapak Djamal.

Pentingnya amalan Buchur ini dibuktikan dengan adanya Gedung Miftaachul Barokah Buchur, gedung yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang-barang kebutuhan dan produksi alat Buchur. Adapun proses pembangunan ini berlangsung selama 1 tahun dengan biaya 800 juta Rupiah, sedangkan tenaga kerjanya mayoritas dari Tim Supporting Ketahanan, yang mayoritas berasal dari lulusan Tarbiyyah Hifdhul Ghulam Wal Banat yaitu Al Isti'daadu Lil Maqooshidil Qur-aanil Mubiin (IMQ) dan IKHWAN 4. Bapak Djamal menambahkan “Pembangunan ini ndak minta shodaqoh (untuk biayanya)”.

Dalam rangka peresmian Gedung Buchur ini, telah diadakan santunan kepada 27 anak yatim/piatu. Ketika ditanya tentang harapannya, Bapak Djamal menjawab, “pelajaran/bimbingan ini kan baru ya, tentunya ada banyak ketidakpahaman, harapannya semoga segera bisa serasih dalam pemahaman.” (OPSHID MEDIA)

Penulis: Baqiyat Aliansyah Siregar

Editor: Sa’adatush S.