ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
27 Juli 2026 07:00
Dua pekan sebelum peletakan Batu Syukur dilaksanakan, kabar duka datang dari Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke. David Pakaimu, seorang warga Orang Asli Papua (OAP) dari suku Mappi, mengembuskan napas terakhirnya pada usia 57 tahun. Ia meninggalkan seorang istri, Chrinsesia Yolmen (68), serta keluarga yang selama ini menjadi tempatnya menambatkan harapan.
David semasa hidup bekerja sebagai pekebun. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia juga memelihara beberapa ekor ayam. Bersama sang istri, ia merawat cucu-cucunya setelah kedua putra mereka meninggal dunia lebih dahulu.
Di usia senjanya, David sempat berjuang melawan penyakit stroke. Pada saat Pengurus Daerah DHIBRA Merauke melakukan survei, kondisi kesehatannya telah menurun. Di tengah keterbatasan itu, ia dan keluarganya masih harus bertahan di sebuah rumah papan yang jauh dari kata layak.
RUMAH YANG TAK LAGI MEMBERI RASA AMAN
Kondisi rumah yang mereka tempati saat itu sangat memprihatinkan. Rumah papan dari kayu yang telah lapuk dimakan usia tampak miring akibat tiang penyangganya yang keropos. Dinding sampai terlepas, sementara atap bocor hampir di seluruh ruangan sehingga keluarga tidak lagi memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman.
Namun, di tengah keadaan tersebut, sebuah harapan mulai tumbuh.
Untuk pertama kalinya, Program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) menjejak di tanah Papua. Keluarga David ditetapkan sebagai penerima rumah layak huni yang dibangun sebagai bentuk kepedulian warga Thoriqoh Shiddiqiyyah kepada sesama warga Indonesia yang membutuhkan.
RUMAH IMPIAN BERDIRI SETELAH IA PERGI
Kepergian David tentu meninggalkan luka bagi keluarga, namun hadirnya rumah yang telah diimpikan sejak lama ini, menjadi pelipur lara bagi istri, menantu, dan cucu-cucu mendiang David.
Namun pembangunan itu tetap dilanjutkan.
Di tengah kesedihan, keluarga untuk sementara harus tinggal di bangunan belakang rumah yang sebelumnya hanya digunakan sebagai dapur sederhana. Di sanalah mereka menunggu, sementara rumah baru perlahan tumbuh dari tanah yang sama.
Mungkin rumah itu tidak akan pernah menjadi tempat David beristirahat setelah seharian bekerja. Tidak akan pernah ada kesempatan baginya untuk berkata bahwa akhirnya keluarganya memiliki tempat tinggal yang lebih aman. Tetapi rumah itu tetap menjadi bagian dari kisah hidupnya.
Sebab, rumah tersebut dibangun untuk sebuah keluarga yang selama bertahun-tahun menunggu bantuan, dan David adalah bagian dari keluarga itu.
BERTAHUN-TAHUN MENUNGGU, HINGGA HARAPAN ITU DATANG
Menurut kesaksian keluarga, semasa hidup David, telah beberapa kali didatangi berbagai pihak yang menjanjikan bantuan rumah. Rumah mereka berkali-kali didata dan difoto. Namun, tahun demi tahun berlalu, bantuan yang dinanti tak kunjung terwujud. Hingga akhirnya, David jatuh sakit dan kemudian berpulang.
Karena itu, ketika pembangunan Rumah Syukur akhirnya dimulai, keluarga merasakan kebahagiaan sekaligus keharuan yang sulit disembunyikan. Ada pula sebuah percakapan yang membekas di hati para pengurus dan tim pelaksana pembangunan.
Saat bersilaturrochmi, keluarga sempat bertanya dengan penuh keraguan, apakah setelah rumah selesai dan diserahkan, mereka akan diminta untuk berpindah keyakinan menjadi Islam?.
Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh Muhammad Anwar, ketua DHIBRA daerah Papua, bahwa Rumah Syukur dibangun bukan untuk mengubah keyakinan siapa pun. Bantuan itu diberikan karena keluarga tersebut memang membutuhkan dan layak menerima.
"Program ini menjadi media untuk menjembatani kesenjangan sosial antara pendatang dan warga asli Papua, antara Muslim dan non-Muslim, serta antara warga Shiddiqiyyah maupun di luar Shiddiqiyyah. Kami hanya menjalankan dawuh Sang Mursyid untuk membantu sesama warga Indonesia yang membutuhkan," ujarnya.
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang