ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sapi'i : Menemukan Ketenangan dalam Tashawwuf
20 September 2024 17:00

Dalam perjalanan panjang untuk menemukan rasa tenang, akhirnya dia temukan dalam Shiddiqiyyah.
Berawal dari rasa lelah akan kehidupan yang dijalani, di dunia yang penuh kegaduhan ini mengantarkannya untuk mencari ketenangan hati. Demi menemukan jawabannya, ia kerap kali datang ke warnet mencari penawar yang mampu mengobati rasa gundah itu. Di tempat tersebut, ia mendapatkan apa yang dicarinya, yakni ilmu Tashawwuf. Lembar demi lembar didapatnya, tercetak nama dan ajaran tokoh-tokoh tashawwuf dunia.
Mulailah orang tersebut perlahan berjalan menuju dunia Tashawwuf, sebuah obat akan kegelisahan yang ia alami. Orang tersebut bernama Sapi’i Damiantok (42). Kini ia sudah menjadi seorang ayah bagi anaknya An’nifhary Aththar (9), dan istrinya bernama Giantin (43).
Sebagai satu dari sekian banyak penerima bantuan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah dalam rangka mensyukuri hari Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya pada tahun ini. Berlokasi di Desa Bendungan, Kec. Kudu, Kab. Jombang. Sapi’i merupakan seorang warga jama’ah Thoriqoh Shiddiqiyyah, tentu saja dengan dipilihnya sebagai penerima telah melalui seleksi dan prosedur sesuai syarat program Rumah Syukur.
Kenyataannya, Sapi’i dan keluarganya tinggal di sebuah rumah yang tidak layak huni, terlihat lebih cocok disebut gubug daripada sebuah rumah. Hampir seluruh dinding rumahnya terbuat dari anyaman bambu. Memang ada dinding yang terbuat dari kalsiboard, tapi itupun hanya sedikit, ia peroleh dengan menyicil untuk membelinya. Bahkan rangka dan kuda-kuda rumah tersebut berasal dari bekas kandang sapi milik saudara orang tuanya.
Sebelumnya, Sapi’i tinggal di rumah orang tuanya, bukan bergabung di dalam rumah, melainkan membuat ruangan kecil di samping rumah ibunya. “Saya sebelumnya tinggal di sebelah rumah ibu, 2 meter sempit itu. Terus anak tambah besar jadi saya cari kontrakan,” begitu ucapnya. Pasalnya Sapi’i sendiri juga masih memiliki 2 saudara yang tinggal bersama dengan ibunya, sebab itulah yang membuatnya harus memilih tinggal di ruangan dengan luas hanya 2 meter saja.
Tak kunjung dapat kontrakan, bibinya menawarkan sebuah lahan kosong untuk ditinggali. Dengan menawarkan rangka rumah diambil dari bekas kandang sapi. Meski begitu Sapi’i menerima dengan legowo. “Yang penting teduh,” ucapnya.
“Jadi anyaman bamboo ini juga sumbangan dari tetangga, nggeh mboten nopo-nopo. Yang penting ke tutup,” lanjutnya. Kurang lebih selama tiga tahun ini, dirinya tinggal di lahan milik bibinya.
Kebutuhan sehari-hari ia penuhi dengan bekerja di tempat peternakan ayam, dengan penghasilan yang bahkan tidak sampai upah minimum regional (UMR). “Gaji Rp2.025.000 di peternakan, belum termasuk biaya tranportasi. Jadi kepotong-potong”.
Dari situ istrinya Giantin menyikapi dengan ikut bekerja sebagai buruh lepas di ladang. Tentu bekerja sebagai buru lepas, tidak setiap saat akan mendapatkan penghasilan. Jika dapat sesuatu terkadang tidak selalu berupa uang, tapi hasil panen dari pertanian tersebut.
Di samping ekonomi yang tidak menentu, biaya kebutuhan pokok harus tetap dipenuhi. Jikalau istri tidak memperoleh pekerjaan, tentunya akan sangat berdampak pada ekonomi keluarganya. Terkadang tidak sampai sebulan Sapi’i harus memutar otak agar kebutuhan sehari-hari masih ada dan mencukupi.
Sempat juga dengan kemahirannya dalam menggambar, Sapi’i mencoba menjualkan hasil karya di media sosial. Juga pernah suatu ketika mendapatkan pesanan untuk membuat mainan kuda lumping, yang berawal dari permintaan anaknya sendiri. Tetapi tetap saja kemahiran tangannya tersebut, hanya menjadi sampingan saja dikala memang ada yang membutuhkan.
Kebutuhan hidup yang tidak mudah tersebut, tidak membuatnya pasif dalam berorganisasi di lingkungan Shiddiqiyyah. Semenjak mendapat dorongan dari ketua DPC ORSHID Kudu, pak Bagus, semangat dalam mengikuti kegiatan-kegiatan di organisasi meningkat seiring waktu.
Dulunya hanya ikut dalam jamaah kautsaran saja, kini Sapi’i sangat aktif dalam acara-acara lainnya. Di dalam organisasi, Sapi’i mendapatkan tugas sebagai bagian media, sehingga mengharuskannya untuk selalu ikut serta dalam banyaknya kegiatan yang ada, walaupun harus dengan alat dan teknologi seadanya.
“Saya selama di Shiddiqiyyah itu, istilahnya obat luar dan dalam, tiap kegiatan itu tidak ada rasa menyesal juga tidak berharap apa-apa. Istilahnya kalau orang bekerja itu profesional,” ungkap Sapi’i. Meski terkadang waktunya harus bertabrakan dengan pekerjaannya, tapi tetap ia memenuhi tanggung jawabnya.
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon