ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Saman: Istriku Meninggal, Anakku Pergi, Cucuku Nyaris Terlantar
01 Juli 2024 07:00

Masa tua adalah waktu yang seharusnya dipergunakan untuk istirahat dan menikmati hidup bersama anak cucu. Namun hal itu tak berlaku bagi Pak Saman (59), di usia senjanya, Pak Saman harus banting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup bersama ketiga cucunya dengan ekonomi yang serba pas-pasan.
Pak Saman, seorang kakek yang hidup bersama ketiga cucunya, tinggal di Plandaan, Jombang, Jawa Timur. Istrinya bernama Nasihah telah berpulang kehadapan Alloh setelah hari raya Idul Fithri tahun lalu.
Pak Saman memiliki seorang putri bernama Luluk (33). Luluk menikah sebanyak dua kali, dari pernikahan pertama, ia dikaruniai tiga anak laki-laki. Lalu bercerai dan menikah lagi, dari pernikahan kedua inilah yang kemudian membuat Luluk meninggalkan ayahnya dan ketiga putranya untuk memilih tinggal bersama suaminya.
Ketiga cucu pak Saman kehilangan peran ibu, bahkan cucu nomer tiga saat itu masih menyusu. Tak lama setelah meninggalkan rumah, pak Saman tak pernah lagi mendengar kabar dari putrinya, Luluk.
Setelah ditinggal wafat istrinya dan ditinggal anak semata wayangnya pergi, pak Saman kini hanya memiliki cucu-cucunya, harta satu-satunya yang beliau miliki, ketiga cucu pak Saman bernama Muhammad Ferdiansyah (kelas 2 Tsanawiyyah), Muhammad Kevin Al Akdas (kelas 2 SD) , dan Ahmad Firja Maulana (TK).
Beliau tinggal di rumah yang terbilang sangat tidak layak huni, rumah berbahan anyaman bambu dan beralaskan tanah tersebut ditanggali bersama ketiga cucunya.
Tak ada lagi keluarga yang bisa beliau andalkan, mau tidak mau, pak Saman harus mencukupi kebutuhan cucu-cucunya. Terlihat dari kegiatan sehari-hari Pak Saman sebagai pekerja serabutan. Kadang beliau sebagai buruh tani, kadang peternak hewan milik orang lain. Apapun beliau usahakan untuk ketiga cucunya.
Ditengah keseharian untuk mencukupi kebutuhan rumah, tak jarang ketika Pak Saman pergi bekerja, cucu paling kecil beliau titipkan ke tetangga. Tapi pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang ada setiap hari, seringkali Pak Saman tidak mendapat panggilan kerja apapun, maka yang bisa beliau lakulan hanya tinggal di rumah bersama ketiga cucunya.
Pekerjaan yang tak pasti dengan gaji tak seberapa hanya cukup untuk makan bersama cucunya, bertahan hidup untuk hari esok. Meski begitu, satu hal kebutuhan yang tidak bisa dibeli dengan uang, yakni kasih sayang yang diberikan pak Saman kepada ketiga cucunya. Kasih sayang yang tak didapat dari ayah dan ibu ketiga cucunya.
Kasih sayang antara kakek dan cucu ini terpancar jelas, terbukti antara keduanya saling bantu satu sama lain. Terlihat ketika Muhammad Ferdiansyah, cucu Pak Saman paling besar dan masih mengeyam pendidikan di bangku kelas dua Tsanawiyyah mulai belajar membantu kakeknya mencari nafkah dengan cara bekerja paruh waktu di warung mie ayam.
- Warga Ploso Jombang, Lestarikan Fakta Kelahiran Bung Karno!
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa