Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Taufiq: Terlilit Hutang, Demi Bertahan Hidup

26 Oktober 2023 12:12

Taufiq: Terlilit Hutang, Demi Bertahan Hidup

PASURUAN - Siapapun tidak ingin terlilit hutang, jika bisa memilih, pasti akan memilih hidup tercukupi tanpa terjerat hutang sana-sini. Namun tidak bagi Pak Taufiq (37) krisis finansial yang tidak bisa dihindari tengah beliau alami, mau tidak mau hutang adalah jalan yang terpaksa beliau pilih untuk membantu memenuhi kebutuhan istri dan ketiga anaknya. 

Tidak memiliki hunian adalah faktor pertama yang membuat pak Taufiq terlilit hutang. Sejak menikah, Pak Taufiq dan keluarga kecilnya menumpang di rumah warisan milik sang adik. Selang beberapa waktu berikutnya, ada rumah kosong milik pakdhe-nya, maka di rumah itulah kemudian pak Taufiq dan keluarga pindah dan tinggal bersama, “Di rumah pakdhe itu tinggal selama 7 tahun, yang 5 tahun itu menempati saja. Barulah 2 tahun berikutnya itu bayar”, terang Bu Rodeyah, istri pak Taufiq.

Sudah menjadi resiko tinggal di rumah bukan milik sendiri, setelah tujuh tahun berlalu, Pak Taufiq diminta untuk mengkosongkan rumah tersebut karena cucu dari pakdhe-nya akan menempati rumah itu. Dengan kondisi perekonomian yang jauh dari kata stabil, terpaksa beliau harus mencari sewaan rumah.

Bagi pak Taufiq menyewa rumah butuh biaya yang tidak sedikit, apalagi dengan kondisi beliau saat ini, sekalipun harga sewa hanya 2 juta pertahun, bagi pak Taufiq itu nilai yang sangat besar. Namun di tengah situasi yang penuh tekanan dan keputusan sulit ini, akhirnya Pak Taufiq mengambil tindakan dengan mengajukan pinjaman di Bank Mekar. 

Tentu saja setelah memiliki hutang, tanggung jawab pak Taufiq bertambah, yang biasanya cukup bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini tiap minggu beliau harus membayar cicilan rumah, dengan profesinya sebagai kuli bongkar kayu serabutan, tentu saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ditambah harus menyicil hutang, "Terkadang satu minggu hanya 1-3 kali panggilan, bahkan pernah tidak sama sekali ada pekerjaan”, ujar Pak Taufiq.

“Semisal 150.000 itu dibagi oleh mandor saya, biasanya yang ikut bongkar kayu itu 6 sampai 8 orang. Gaji yang saya dapatkan menyesuaikan dengan datangnya pekerja lain”, lanjut Pak Taufiq menjelaskan besaran upah yang beliau terima. 

Maka dengan ketidakpastian penghasilan yang didapat, membuat pak Taufiq terpaksa harus gali lobang tutup lobang, hutang ke sana untuk menutup hutang yang di sini, begitu seterusnya sampai tidak terasa hutang kian menumpuk. 

Penulis: Jauharotun Naaja

Editor: Nuraida