ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sumiasih: Tuna Rungu Wicara, Ditinggal Suami Bersama Putri-putrinya
24 Oktober 2023 14:00

SLEMAN – 32 tahun lamanya menyandang keterbatasan fisik, Alloh mengirim OPSHID sebagai jawaban atas doa Ibu Sumiasih yang tak disuarakan, beliau adalah penerima Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah penyandang disabilitas tuna rungu wicara.
Ibu Sumiasih yang akrab disapa ibu Asih menyandang keterbatasan fisik sejak usia dua tahun, ditandai gejala demam pada umumnya, namun lama kelamaan berakibat terganggunya indra pendengaran beliau, yang kemudian mempengaruhi tumbuh kembang ibu Asih dalam berbicara, “Dari kecil, sekitar umur 1 atau 2 tahun, karena pernah sakit panas beberapa hari”, kata Pak Abdur Rohmat, kakak Ibu Asih.
Tidak cukup sakit yang diderita Ibu Asih selama ini, beliau juga diceraikan oleh suaminya, meninggalkan Ibu Asih dan kedua putrinya tanpa belas kasih dengan keterbatasan yang dimiliki Ibu Asih. Tidak ada pilihan lain, Ibu Asih dan kedua putrinya memutuskan untuk menumpang ke rumah kakaknya.
“Jadi rumah yang sekarang ditempati sama Mbak Asih dan Mas Abdul itu jatahnya Mas Abdur Rohmat, jadi Mba Asih cuman mendapatkan (warisan) sebidang tanah saja”, jelas Bapak Ujang Kurniawan selaku Penanggung Jawab Dewan Perwakilan Daerah OPSHID Sleman.
Syukur Ibu Asih memiliki saudara kandung yang sangat peduli kepadanya, ialah Bapak Abdur Rohmat atau biasa disapa Pak Abdul yang kini berusia 41 tahun ini, masih mau menerima adik dan keponakannya untuk tinggal bersama, diatas tanah warisan pemberian mbah-nya dulu.
Dibalik welas asih pak Abdul sebagai sosok kakak kepada sang adik, rupanya ada istri beserta buah hatinya yang harus ditinggalkan sementara waktu di Klaten, Jawa Tengah. Istri dari Pak Abdul bekerja sebagai penjual souvenir. Baik Pak Abdul ataupun sang istri, keduanya sama-sama legowo untuk mengorbankan waktu bersama keluarga guna lebih dulu merawat Ibu Asih beserta kedua putri kecilnya dengan sepenuh hati.
Keterbatasan fisik yang dialami Ibu Asih membuat beliau kesulitan mendapat pekerjaan, dengan tidak adanya pekerjaan lain, dalam kesehariannya beliau fokus untuk merawat kedua putrinya yang sedang dalam masa pertumbuhan. Dalam keadaan ini, pak Abdul-lah yang membantu memenuhi kebutuhan sang adik dan kedua keponakannya, dengan bekerja sebagai petugas kebersihan kampung, yang mana secara kesehatan, pak Abdul sendiri sedang mengidap penyakit hernia.
“Sementara menjadi petugas ngambil sampah. Pendapatannya nggak tentu, tergantung nanti konsumennya, kebutuhan sehari-hari ya seadanya”, ujar Pak Abdul.
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon