ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kota Pahlawan: Benteng Negara Dan Takluknya Jendral Perang Dunia II
10 November 2025 07:00

SEPTEMBER: KOBARAN MEMPERTAHANKAN KEUTUHAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
Perjuangan bangsa Indonesia setelah itu memasuki tahapan baru, yaitu perjuangan membela dan mempertahankan kemerdekaan terhadap ancaman penjajahan kembali di bumi Nusantara ini. Pada awal September, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta memusatkan perhatian pada pembentukan pemerintahan yang kokoh. Euforia kemerdekaan belum sepenuhnya diakui oleh dunia internasional, dan ancaman dari pihak Sekutu serta kembalinya Belanda melalui Netherlands Indies Civil Administration (NICA) mulai terasa nyata.
Pada tanggal 8 September 1945, telah datang Pelopor Shettler Kolonialisme pertama yaitu Allied Mission di bawah pimpinan Mayor A.C. Greenbalgh, terdiri dari 7 orang perwira Inggris yang diterjunkan di lapangan terbang Kemayoran. Selaku utusan dari South East Asia Command (SEAC) yang berkedudukan di Singapura, mereka mendapat tugas khusus untuk meneliti keadaan menjelang pendaratan pasukan penjajah yang lebih besar.
Presiden Soekarno pada tanggal 10 September 1945 mengeluarkan sebuah pengumuman bahwa hanya perintah dari pemerintah Indonesia sajalah yang mesti ditaati oleh rakyat. Sehari setelahnya, pada 11 September Radio Republik Indonesia (RRI) didirikan. Digunakan untuk menyiarkan kabar perjuangan dan pidato-pidato yang membangkitkan semangat rakyat. Dan agar Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dapat berkumandang di berbagai penjuru negeri yang digunakan sebagai pemantik kesatuan. Seluruh rakyat, dari kalangan santri, pemuda, petani, hingga mantan tentara, bersatu dalam satu tekad: mempertahankan kemerdekaan dengan segala cara.
Di tengah-tengah menggeloranya semangat juang bangsa Indonesia, Laksamana Muda Rear Admiral W.R. Patterson, wakil dari Panglima SEAC di Singapura Lord Louis Mountbatten, tanggal 15 September 1945 merapat di Tanjung Priok dengan kapal Inggris HMS Cumberland.
Bersamaan dengan pendaratan itu, ikut juga wakil-wakil dari NICA antara lain Dr. C.H.O. Van Der Plas, mantan Gubernur Jawa Timur di jaman Hindia Belanda "tempo dulu", yang terkenal pandai bergaul dengan orang-orang pamong praja dan para kyai di Jawa Timur karena ia sempat mempelajari kebudayaan Jawa dan mengerti mengenai agama Islam serta fasih berbahasa Arab.
Di Tanjung Priok, dan dalam perjalanan ke kota, mereka menyaksikan keberadaan Republik Indonesia dengan berkibarnya bendera Merah Putih di mana-mana. Sesudah pendaratan maka diadakan pembicaraan antara Laksamana Muda Patterson di pihak Sekutu penjajahan dan Jenderal Nagano di pihak Jepang, di mana yang disebut terakhir menyatakan bertanggung jawab untuk keamanan dan ketertiban atas nama Sekutu.
Sebagai pernyataan semangat pemuda dan rakyat yang menggebu-gebu untuk membela kemerdekaan, maka pada tanggal 19 September 1945 diadakan rapat raksasa di lapangan Ikatan Atletik Djakarta yang disingkat: IKADA (sekarang lapangan Monas).
Dengan penuh keberanian maka sejak pagi hari rakyat berbondong-bondong membanjiri lapangan IKADA yang dijaga ketat oleh pasukan Jepang dengan senjata lengkap dan tank-tank. Bagi pihak pemerintah Republik Indonesia, ini adalah merupakan modal politik yang sangat besar nilainya untuk perjuangan selanjutnya.
Di hari yang sama di Surabaya, terjadi peristiwa menggemparkan yang kemudian terkenal dengan sebutan Insiden Bendera. Orang-orang Belanda tawanan Jepang yang telah bebas, mulai melancarkan tindakan-tindakan provokatif yang sifatnya mengejek perjuangan Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Sehari sebelumnya, di tengah-tengah suasana yang tegang itu, pada tanggal 18 September 1945 sejumlah orang Belanda dari Mastiff Carbolic Party (MCP) di bawah pimpinan Letnan Antonissen, diterjunkan dari udara antara lain dr. Roebiono Kertopati di Gunung Sari, Wonokerto, Surabaya. Kedatangan mereka berkedok sebagai anggota Palang Merah Internasional dari Jakarta, dan karena pengakuannya itu mereka ditempatkan di Hotel Yamato (dulu Oranje Hotel) di Tunjungan. Selama berada di Hotel Yamato, mereka dengan bebas menerima tamu-tamu orang-orang Belanda.
Di Hotel Yamato, mereka bertindak gegabah dengan mengibarkan bendera Belanda di tiang bendera yang terletak di atap paling atas Hotel Yamato. Melihat berkibarnya bendera Belanda itu, rakyat menjadi marah dan serentak beramai-ramai menyerbu Hotel Yamato menerobos penjagaan ketat pasukan Kempetai yang menjaga dan langsung memanjat tangga menuju lantai atas. Bendera Belanda diturunkan dan kain biru dirobek sehingga yang kemudian berkibar dengan megah ialah Sang Merah Putih.
Insiden bendera di Surabaya itu telah membakar semangat yang berkobar-kobar di dada para pemuda "Arek-Arek Suroboyo" untuk melawan setiap usaha asing terutama Belanda-Inggris untuk datang menjajah kembali.
Menjelang akhir September, pasukan Sekutu mulai mendarat di beberapa kota besar termasuk Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Mereka datang dengan misi melucuti tentara Jepang, tetapi di balik itu ikut menyertakan pasukan NICA yang ingin mengembalikan kekuasaan Settler Kolonialisme. Hal ini membuat situasi di beberapa daerah di Indonesia semakin memanas.
Rakyat tidak tinggal diam. Di berbagai tempat, terjadi perebutan senjata dari tentara Jepang. Di Surabaya, gudang senjata di Simpang dan Wonokromo berhasil direbut oleh para pemuda dan laskar rakyat. Di Semarang, pertempuran antara pemuda Indonesia dan tentara Jepang pecah pada akhir September, yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Lima Hari di Semarang (15–20 Oktober 1945).
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan