Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kota Pahlawan: Benteng Negara Dan Takluknya Jendral Perang Dunia II

10 November 2025 07:00

Kota Pahlawan: Benteng Negara Dan Takluknya Jendral Perang Dunia II

OKTOBER: AREK TIMUR MENJADI PEMANTIK GEJOLAK PERLAWANAN TERHADAP SISA-SISA PENJAJAHAN

Kota Surabaya menjadi titik paling panas setelah kemerdekaan. Setelah kejadian perobekan bendera di Hotel Yamato, rakyat Surabaya semakin intens menunjukkan penolakan kembalinya para Sekutu Penjajah. Perlawanan ini ditunjukkan dengan pengambilan sisa senjata pasukan Jepang.

Sebagai kota pelabuhan besar, Surabaya menjadi tempat mendarat pasukan penjajah. Dan sejak awal Oktober pula pasukan NICA dibawah komando Brigadier Jenderal Aulbertin Walter Sother (AWS) Mallaby langsung masuk ke Surabaya dan mendirikan pos pertahanan.

Mereka datang dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang dan mengurus tawanan perang, tetapi di balik itu, ikut serta pasukan NICA (Belanda) yang bermaksud mengembalikan kekuasaan penjajah. Hal ini membuat rakyat Surabaya marah besar. Ketegangan mulai meningkat ketika Settler Kolinialisme mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata. Ultimatum itu ditolak mentah-mentah oleh arek Suroboyo.

Karena desakan atas serangan sekutu yang tak kunjung berhenti, Pemerintah Indonesia yang diwakili Soekarno mengirim surat pada Syekh Hasyim Asy'ari, Jombang. Di tempat lain Jendral Sudirman juga meminta petunjuk kepada para ulama’ Tanah Air akan situasi Indonesia. Salah satu ulama’ yang dimintai pertimbangan adalah Hadrotush Syekh Hasyim Asy’ari, yang ternyata telah muncul juga desakan dari kalangan rakyat dan santri.

Sehingga muncullah pertemuan seluruh ulama’ seluruh Indonesia untuk merapatkan kondisi-situasi NKRI yang semakin tak menentu. Para ulama dari berbagai daerah berkumpul di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berlokasi di Jalan Bubutan VI No. 2 di Surabaya. Pertemuan itu dipimpin langsung oleh Hadrotusy Syekh Hasyim Asy’ari dan melahirkan keputusan penting yang dikenal dengan Resolusi Jihad.

Fatwa ini kemudian dibacakan pada 22 Oktober 1945, dan langsung menyebar keseluruh Jawa dan Madura. Kemudian para kyai menyerukan kepada para santri dan rakyat untuk berjihad fii sabilillah guna mempertahankan kemerdekaan. Setelah Resolusi Jihad dikumandangkan, Surabaya benar-benar menjadi kawah candradimuka jati diri bangsa.

Pada 25 Oktober 1945 malam, pasukan Inggris dalam jumlah besar yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) mendarat di bawah pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Jendral Mallaby merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam Perang Dunia II.

Beberapa hari setelah Resolusi Jihad dikumandangkan, muncullah sosok muda bernama Bung Tomo, seorang orator ulung yang menjadi simbol perlawanan rakyat Surabaya. Lewat siaran radionya, ia memompa semangat rakyat dengan kata-kata yang membakar jiwa.

Salah satu pidatonya yang terkenal berbunyi: Saudara-saudara! Kita ini bukan bangsa tempe! Kita tidak gentar melawan musuh penjajahan! Kalau kita harus mati, lebih baik kita mati terhormat sebagai manusia merdeka!”

Bung Tomo bukan kyai, namun dalam dirinya mengalir darah santri. Ia percaya bahwa takbir adalah sumber kekuatan spiritual perjuangan. Pidato-pidatonya mampu memantik semangat rakyat Surabaya menghadapi pasukan Inggris yang jauh lebih modern dan lengkap persenjataannya.

Pada tanggal 27 Oktober 1945, Jenderal Hawthorn, Panglima Sekutu untuk Jawa-Madura, Bali dan Lombok, menyebarkan pamflet yang berisi perintah supaya rakyat Surabaya menyerahkan senjatanya. Perintah itu disertai ancaman hukuman berat. Tetapi ancaman itu tidak dihiraukan, malahan ditanggapi dengan melantangkan kalimat ismul a'dhom; Allohu Akbar! Allohu Akbar! Allohu Akbar!! 

Akibat penghinaan dan ancaman pihak Penjajah itu, maka pada tanggal 27 Oktober 1945 pukul 19.00 WIB, Komando Divisi TKR di Surabaya mengeluarkan perintah serbuan umum terhadap kedudukan Inggris di Surabaya.

Pecahlah pertempuran yang dahsyat melawan pasukan Mallaby, yang dimulai tanggal 28 Oktober 1945 malam dan terus memuncak tanggal 10 Nopember 1945. Pertempuran berlangsung di berbagai titik kota. Suara tembakan dan takbir menggema di udara.

Pada 30 Oktober, pertempuran kembali pecah di sekitar Jembatan Merah, Surabaya. Dalam kekacauan itu, Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan pasukan Inggris di Surabaya, tewas tertembak oleh seorang santri bertubuh kecil dan mobil yang ditumpanginya hangus terbakar. Peristiwa ini memperburuk hubungan antara pihak Inggris dan Republik Indonesia.

Tewasnya Mallaby yang merupakan orang penting dalam Perang Dunia II membuat Inggris murka. Mereka mengirim pasukan tambahan dan menunjuk Mayor Jenderal E.C. Mansergh sebagai pengganti Mallaby.

Penulis: Kholidah

Editor: Sa’adatush S.