ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Rumah Layak Huni Melahirkan Jiwa yang Merdeka
25 Oktober 2024 17:00

RUMAH SYUKUR KERAP KALI DISEBUT RUMAH BAROKAH
Ratusan Rumah Syukur telah dibangun OPSHID, sejak tahun 2010 hingga 2024. Tercatat sebanyak 308 unit rumah telah terwujud. Dampak dari pembangunan Rumah Syukur tentu sudah banyak dirasakan oleh masyarakat luas.
Salah satunya dirasakan oleh Indra Gunawan (33) penerima Rumah Syukur Peterongan-Jombang dalam rangka Tasyakkuran Sumpah Pemuda tahun lalu. Mulanya, Indra adalah seorang pengamen jalanan dengan pendapatan tak menentu. Indra juga mengidap penyakit ambeien dan tidak ada biaya untuk berobat.
Namun, setelah satu tahun tinggal di Rumah Syukur, Indra bisa merasakan hidup nyaman dan tentram bersama keluarga. Kisah Indra dapat dibaca melalui link berikut: Indra: Sakit Bukan Perintang, Asal Anak Bisa Makan
“Sekarang Alchamdulillah berkah luar biasa dibangunkan rumah ini. Alchamdulillah ekonomi juga ada perubahan dari sebelumnya. kalau ada kebutuhan mendadak pekerjaan itu ada aja mbak. kadang kalau beras sudah mau habis gitu saya kepikiran gimana nanti, tapi tiba-tiba ada yang datang nawarin kerja, buruh atau bantu-bantu apa saja lah mbak serabutan. Pokoknya ada aja mbak jalan rezekinya”, ucap Indra saat ditemui Tim Jurnalis OPSHID Media pada September lalu.
“Alchamdulillah sakit ambeien saya sekarang sudah tidak pernah kambuh lagi. Padahal cuma diterapi beberapa kali waktu awal pembangunan rumah itu, tapi kemajuanya banyak banget dan udah nggak pernah kambuh lagi jadi sekarang sudah bisa beraktifitas dengan lancar”, tambahnya.
Dari kisah tersebut menunjukkan bahwa rumah memiliki peran besar bagi kesehatan fisik maupun psikis penerima. Secara psikologis orang yang awalnya hidup di rumah tidak layak huni cenderung menutup diri, tidak mudah bersosialisasi, bahkan sampai merasa dirinya rendah di hadapan orang lain.
Namun setelah memiliki rumah yang layak huni, percaya diri tumbuh dengan sendirinya melahirkan ketentraman jiwa. Beban pikirnya berkurang, tidak lagi kepanasan, tidak lagi kehujanan.
Begitulah yang dirasakan para penerima Rumah Syukur. Kendati para penerima sudah membaik ekonominya, namun OPSHID tetap memantau bagaimana perkembangan ekonomi penerima serta tetap menjalin tali Shilaturochmi.
Sambung roso kepada para penerima Rumah Syukur juga dilakukan OPSHID tiap menjelang Hari Raya Idul Fithri menyampaikan parsel berupa sembako, makanan ringan, serta berupa uang tunai. (OPSHID MEDIA)
- Warga Ploso Jombang, Lestarikan Fakta Kelahiran Bung Karno!
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa