ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Rumah Layak Huni Melahirkan Jiwa yang Merdeka
25 Oktober 2024 17:00

Rumah merupakan tempat berlindung untuk keberlangsungan hidup. Rumah juga mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Hubungan antara rumah dan kesehatan psikis memiliki hubungan erat, mendalam dan beragam.
Tempat yang kita tinggali dapat mencerminkan latar belakang kehidupan kita sehari-hari, mempengaruhi emosi, perilaku, kesehatan fisik, dan kesejahteraan kita secara keseluruhan. Menurut ahli, hidup di Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dapat berdampak buruk pada kesehatan, produktifitas, serta kehidupan sosial penghuni. Sedangkan memiliki rumah yang nyaman dapat membantu dan meningkatkan kesehatan mental.
Di Indonesia ada sebuah organisasi yang bergerak di bidang keimanan dan kemanusiaan. Di mana dalam praktiknya organisasi tersebut memiliki program membangun rumah gratis untuk diberikan kepada masyarakat Indonesia yang membutuhkan, mereka menyebutnya dengan program Rumah Syukur. Organisasi tersebut adalah Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) berpusat di Jombang dan tersebar di seluruh Indonesia Raya.
Menurut OPSHID, membangun rumah adalah salah satu cara untuk memberantas kemiskinan sistematik di Indonesia yang dimulai dengan membenahi krisis mental, membangun jiwa Bangsa Indonesia untuk memiliki mental sebagai Bangsa yang jaya, Bangsa yang Raja, di tanah air Indonesia Raya.
Lantas benarkah Rumah Syukur dapat membenahi krisis mental bagi penerima? Serta apa dampaknya Rumah Syukur terhadap peningkatan kualitas hidup penerima?
MEMBANGUN RUMAH SERTA MEMBANGUN EKONOMI PENERIMA
Dalam pembangunan Rumah Syukur, OPSHID sangat selektif dalam memilih calon penerima, mana yang lebih layak untuk dibangunkan rumah itulah yang didahulukan. Selain itu, OPSHID juga sangat peduli terhadap kesehatan serta perekonomian penerima Rumah Syukur.
Hal itu dapat dilihat dari beberapa penerima Rumah Syukur yang oleh OPSHID tidak hanya dibangunkan rumah saja akan tetapi juga dibangunkan usaha untuk penghasilan hidup kedepannya.
Salah satunya yakni Setyo Utomo (57) penerima Rumah Syukur Gunung Kidul yang dibangunkan usaha oleh OPSHID Gunung Kidul berupa 4 kamar kos-kosan. Hal itu lantaran Setyo menderita sakit cidera tulang belakang dan sakit di bagian lensa mata, mengakibatkan Setyo tidak bisa bekerja bahkan sempat tidak bisa berjalan.
Sebelumnya, Setyo bekerja sebagai tukang parkir, ia hidup sebatang kara setelah bercerai. Kedua anaknya tinggal bersama ibunya. Namun pada suatu hari ia mengalami sakit tulang belakang sampai mengakibatkan tidak bisa berjalan. Belum sembuh sakit tulangnya, Setyo mengalami sakit di bagian lensa mata membuatnya sempat tidak bisa melihat. Ketika sakit tersebut, Setyo tidak bisa lagi bekerja.
Di rumah yang tak layak huni itu, Setyo menjalani hidupnya dengan penuh kesedihan. Dalam ceritanya, untuk makan sesuap nasi saja ia mengandalkan dari pemberian orang. Tak jarang mantan istrinya, saudaranya, atau teman parkirnya datang membawakan makanan untuk Setyo.
Mengetahui kondisi tersebut OPSHID bergerak cepat untuk membangunkan Rumah Syukur yang bertepatan dengan momen Tasyakkuran Sumpah Pemuda ke-96 tahun ini.
Hal itu dapat dilihat bahwa OPSHID begitu peduli terhadap penerima Rumah Syukur, kepedulian itu tidak hanya sebatas pada tempat yang ditinggali, namun juga memikirkan bagaimana ekonomi penerima Rumah Syukur kedepannya.
- Warga Ploso Jombang, Lestarikan Fakta Kelahiran Bung Karno!
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa