ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Harga Rumah Kian Meroket, Orang Miskin Dilarang Tidur Nyenyak?
17 Oktober 2024 17:00

Sebagai contoh, mari kita lihat kisah Ibu Sopiah yang kini tinggal di Jakarta Utara. Dengan janji dan harapan akan hidup yang mapan dan layak, Sopiah yang pada tahun 1980an berusia 17 tahun datang ke Jakarta, dari kota asalnya Pemalang. Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga. Pada tahun itu, pendapatan yang ia dapatkan tak langsung cukup untuk membeli tempat tinggal di Ibukota. Sehingga dengan pendapatan bulanan 300 ribu rupiah, Sopiah mencicil tanah selama belasan tahun. Hasilnya, ia hanya mampu membeli sepetak tanah berukuran 2,5x5m, untuk ditinggali olehnya, suaminya, dan ketiga anaknya. Cerita Sopiah selengkapnya dapat dibaca di sini: Sopiah: Anak-anakku Harus Sekolah
Sopiah ini adalah contoh rakyat Indonesia yang terjebak dalam siklus kemiskinan. Bagaikan lingkaran setan, siklus ini membuat keluarga secara turun temurun harus hidup dalam ekonomi yang pas-pasan bahkan melarat. Sebuah keluarga miskin - tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya ke pendidikan yang layak karena alasan biaya, bahkan tak jarang anaknya harus putus sekolah dan membantu orang tuanya mencari nafkah - anak tidak dibekali edukasi yang cukup sehingga tidak bisa mendapat pekerjaan dengan gaji yang cukup - ia berkeluarga dalam ekonomi pas-pasan dan melanjutkan siklus kemiskinan itu pada anak cucunya.
Bagi rakyat seperti Sopiah, jangankan membeli rumah yang layak, untuk makan sehari-hari saja sudah sangat sulit. Mereka dipaksa keadaan untuk tinggal di rumah yang sangat tidak layak. Meski harus hidup serba terbatas, Sopiah bertekad untuk membawa anak-anaknya keluar dari siklus kemiskinan itu. Ia bertekad, bagaimanapun anak-anaknya harus sekolah, tidak seperti dirinya dulu yang harus putus sekolah karena alasan finansial keluarga.
Di sisi lain, Sekretaris Jendral DPR RI Indra Iskandar membuat komentar yang cukup mengejutkan mengenai rumah dinas DPR RI yang dibilang tidak layak huni.
“Sudah selayaknyalah anggota-anggota dewan itu bisa memiliki hunian atau tempat tinggal yang layak, yang tenang, yang bisa produktif dalam mengerjakan tugas-tugas konstitusinya," jelas Indra Iskandar.
Dilansir dari metrotvnews.com:
“Rumah ini memiliki luas 188 m² dan luas bangunan 100 m². Fasilitasnya tentu tak sembarangan, satu ruang kerja, satu kamar dan tiga toilet, garasi dan dapur di lantai 1. Sementara di lantai 2, ada empat kamar dan tiga toilet. Jangan lupakan juga berbagai fasilitas di kompleks perumahan seperti lapangan mini soccer, lapangan basket, hingga penjagaan 24 jam. Sementara kerusakan yang terlihat hanya sebatas plafon bekas bocor dan cat yang mengelupas.”
Pernyataan dari Indra Iskandar dinilai nirempati kepada rakyat Indonesia yang rumahnya benar-benar tidak layak ditinggali. Masih banyak rakyat seperti Sopiah yang tinggal di rumah sempit untuk banyak anggota keluarga, dinding anyaman bambu/calciboard/triplek, lantai langsung tanah, atap bocor dimana-mana, tak memiliki akses sanitasi dan air bersih, hingga hampir ambruk.
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan