Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Mengapa Zionisme Harus Dihapuskan Dari Muka Bumi?

14 Agustus 2024 07:00

Mengapa Zionisme Harus Dihapuskan Dari Muka Bumi?

Dan Rosululloh SAW telah mengingatkan kepada kita bahwa pokoknya keluputan, atau pokoknya dosa terhadap Alloh Ta’ala dan terhadap sesama manusia itu bersumber dari tiga sifat, yaitu :

Bersabda Rosululloh S.A.W: “Hendaklah kamu takut akan sifat kibrun, maka sesungguhnya iblis membawanya sifat kibrun, ia tidak mau sujud kepada Adam. Dan hendaklah kamu takut akan sifat chirshun, maka sesungguhnya Adam membawanya sifat chirshun, ia sungguh sampai makan dari sebuah pohon terlarang. Dan hendaklah kamu takut akan sifat hasadun, maka sesungguhnya dua anak laki-laki Adam membunuh salah satunya akan temannya karena sifat chasadun”. (An Abnu Mas'ud, Jami'ush Shoghir, Bab Huruf Alif hal. 105)

KIBRUN adalah satu sifat bathin, yang merasa dirinya itu lebih besar, lebih baik, lebih tinggi kepada lainnya. Bila sifat itu masih tersimpan di dalam hati dinamakan kibrun, tetapi apabila sudah keluar diucapan, atau tingkah dinamakan takabbur.

CHIRSHUN adalah sifat bathin, artinya tergesa-gesa atau sifat amat cenderung terburu-buru menerima, terburu-buru menolak tanpa ada pertimbangan baik-buruk, manfaat, atau mudlorot bagi diri dan masyarakat.

CHASADUN adalah sifat bathin dengki, dengki melihat orang lain mendapatkan kenikmatan dari Alloh, atau tidak puas selama kenikmatan itu tidak hilang dari orang lain.

Tiga contoh sifat tersebut sesuai dengan sifat Zionis; yang merasa kelompoknya yang terbaik, tidak dapat mengetahui mana perbuatan baik dan buruk, suka menyebarkan dan membuat perselisihan dengan memunculkan faham rasisme dan fasisme, menjauhkan manusia dari kodratnya sebagai laki-laki dan perempuan dan menyebarkan sifat keduniawian. Serta membiasakan adanya sifat kemunafikan; perbuatannya tidak sesuai dengan apa yang dibicarakan. Yang paling menonjol adalah dengan menciptakan 'dinding imajiner' agar masyarakat dunia tidak menyukai perintah Alloh Ta'ala "Jihad fii Sabilillah".

Dalam artikel yang di tulis Hamka yang berjudul Tjinta Tanah Air Kemanusiaan dan Islam, dimuat dalam majalah Pandji Masjarakat (III habis) tahun 1959 disebutkan :

Tetapi selalulah suatu TJITA berbentur dengan NJATA! Tidak sekaligus orang mau melepaskan susunan lama walaupun salah! Terpaksalah Nabi Muchammad melawan kekuatan dengan kekuatan, menangkis perang dengan perang, untuk mempertahankan dakwah. Kepala suku, kepala kabilah dan radja-radja disekeliling Madinah rupanja akan tetap menentang. Sebab tersebarnja kejakinan PERSAMAAN HAK dan KEWADJIBAN, kalau tersiar artinja ialah mahkota mereka akan jatuh.

Tidak dapat tidak! Kepertjajaan jang asasi ini mestilah disiarkan; dan Nabi tidak mau ‘mati konjol’ karena kelalaian bertindak. Para djamaah insany sudah lama menderita, karena kebrobokan ‘aqidah, karena kelalaian penguasa.

Inilah sebabnja maka ada kalimat “perang” dalam sedjarah umat muslim. BUKAN PERANG dengan maksud PENAKLUKAN, melainkan maksud PEMBEBASAN (KEMERDEKAAN). Kalau perang ini untuk nafsu “imperialis” sudah lamalah pokok kepertjajaan asasi ini hantjur lebur dari muka bumi.

Sebab Al Qur-an, pedoman jang beliau tinggalkan, dapat kita olah kembali, dapat kita tilik. Isinja adalah Wahju Ilahi, Kalamulloh! Kekal selamanja, tahan berhudjan berpanas, teguh menghadapi tantangan zaman! Kesana kita pulang dan mari kita melangkahkan kaki ketengah dunia, menjerbu ketengah masjarakat kemanusiaan, karena kita sebahagian daripadanja.

Sebagaimana Pudjangga Iqbal pernah mengatakan ; “Bersiaplah tegak kembali, hai pemuda Islam! Karena tugas berat dunia ini akan diserahkan kembali ke dalam tanganmu … “ (ditulis dengan bahasa Melayu ejaan lama). (OPSHID Media)

 

----

Bersumber dari :

  • Ajaran Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.
  • Majalah Pandji Masjarakat (1959), oleh Hamka berjudul Tjinta Tanah Air Kemanusiaan dan Islam (III habis).

Penulis: Kholidah

Editor: Sa’adatush S.