Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Warisan Terbaik Orang Tua: Buah Hati Berbudi Pekerti

03 Oktober 2025 00:58

Warisan Terbaik Orang Tua: Buah Hati Berbudi Pekerti

Warisan terbaik dari orang tua bukanlah harta benda atau kedudukan, melainkan warisan budi pekerti atau adab yang baik.

JOMBANG – Kamis (2/10/2025), telah dilaksanakan haul Syarif Yusuf dan Umi Sadiyem, mertua dari Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, orang tua dari Ibu Nyai Shofwatul Ummah.

Acara dilaksanakan dengan do’a dan pitutur luhur Sang Mursyid, bahwa peninggalan dari orang tua adalah warisan yang baik dan bermanfaat, sebagaimana sabda Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

“Tidak ada warisan orang tua kepada anaknya yang melebihi utamanya dari warisan anak yang baik budi pekertinya.” (H.R Tirmidzi, keterangan dari ‘Amr bin Sai’d Al Ash, Shoheh)

Bukan warisan harta, pangkat, atau apapun, warisan yang paling baik adalah budi pekerti yang baik kepada Alloh, Rosululloh, kedua orang tua, masyarakat, alam sekitar, hingga waktunya. Ibarat berlian hidup yang bermanfaat di dunia akhirat.

Budi pekerti baik kepada Alloh dan Rosul berarti melaksanakan perintah Alloh dan Rosul serta menjauhi larangan-laranganNya menurut kemampuan. Tata krama baik kepada Ibu Bapak berarti membantu orang tuanya menurut kemampuan, bahkan jika itu berbeda agama, terutama yang sudah tua.

Baik budi pekerti kepada masyarakat atau tetangga berarti memulyakannya sesuai kemampuan, mulai dari tetangga rumah, desa, hingga tetangga tingkat negara. Adab yang baik kepada alam semesta juga termasuk, mulai dari alam hayawan, alam tumbuhan, udara, dan lainnya. Semua ini adalah ajaran Islam, bersumber dari Al Qur-aan dan hadits.

Hadits ini merupakan tafsir Rosululloh terhadap Al Qur-aan surat Asy Syu’aro ayat 88-89, yang artinya “Pada suatu hari, tidak ada yang bermanfaat harta benda dan anak-anak (88) kecuali, yang kembali kepada Alloh dengan hati yang selamat (89).”

Bukan hati yang sakit, hati yang selamat dari segala penyakit hati seperti sombong, hasud, dan masih banyak lagi. Dengan hati selamat inilah seseorang akan membuahkan budi pekerti yang baik. Dan hati itu ratu, ratu menentukan arah gerak anggotanya, maka ketika hati seseorang baik, akan baik pula anggotanya, fikirannya, geraknya, begitu pula sebaliknya. (OPSHID Media)

Penulis: Baqiyat Aliansyah Siregar

Editor: Nuraida