Dukungan juga datang dari Organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia yang didirikan oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.
PCTA-Indonesia turut mendorong Pemkab.Jombang agar menetapkan situs kelahiran Bung Karno di Ploso sebagai cagar budaya.
Sikap tersebut dipertegas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PCTA-Indonesia yang baru-baru ini dilaksanakan, di mana para peserta secara mufakat memutuskan dan menandatangani pernyataan bahwa Bung Karno lahir di Ploso, Jombang, pada 6 Juni 1902.
Menurut Tris Edi Wahyono selaku pengurus PCTA-Indonesia, langkah penetapan cagar budaya ini merupakan bentuk kebanggaan nasional.
Langkah tersebut dinilai penting karena menyangkut sosok proklamator sekaligus tokoh sentral dalam sejarah nasional dan dunia. Proses ini perlu segera mendapat perhatian yang diikuti langkah nyata dari PEMDA, khususnya melalui penerbitan surat keputusan (SK) resmi.
Namun, lebih dari sekadar kebijakan formal, penetapan ini juga berkaitan dengan upaya memperbaiki catatan sejarah yang selama ini keliru.
“Bukankah kita juga mengenal istilah yang disampaikan Bung Karno, 'jangan sekali-kali meninggalkan sejarah'. Ini bukan hanya kepada komunitas sejarah, tapi ditujukan kepada seluruh bangsa Indonesia,” pungkasnya.
Sowan Kyai Mukhtar, Terungkap Jejak Soekarno
Pada 22 Mei 2025, Bupati Jombang Warsubi bersama Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), pengurus Yayasan Persada Soekarno Kediri, Tim Sejarawan, Kapolsek Ploso, dan Camat Ploso mengunjungi Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa' Mu'thi di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, Ploso Jombang.
Kunjungan tersebut bertujuan untuk mendapatkan keterangan langsung dari Sang Mursyid mengenai kebenaran informasi sejarah kelahiran Bung Karno.
TACB memaparkan sejumlah data hasil kajian yang mereka temukan.
"Alchamdulillah, kami sudah bertemu dengan Kyai Mukhtar. Beliau memberikan penjelasan bahwa Bung Karno lahir di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso,” ujar Warsubi.
Salah satu momen penting dalam pertemuan tersebut bahwa Sang Mursyid menerima informasi langsung dari abahnya, Kyai Haji Abdul Mu'thi.
Dalam cerita itu, Kyai Mu'thi mengisahkan kedatangan Raden Sukeni —ayah Bung Karno— ke Ploso dan sering berdiskusi tentang keagamaan.
Raden Sukeni bahkan menitipkan putranya, Kusno (nama kecil Bung Karno), kepada Kyai Mu'thi untuk belajar agama di Kedung Turi.
Menurut kesaksian Binhad pada pertemuan itu, ketika Kyai Mukhtar menerima informasi tersebut dari sang abah, beliau tidak langsung menyampaikannya kepada masyarakat.
Kyai Mukhtar terlebih dahulu mengambil air wudhu dan memohon petunjuk kepada Alloh SWT, lalu membuka Al-Qur’an dan ayat pertama yang terbaca adalah surat Al Fatihah ayat 6:
Ihdinas shiroothol mustaqim, artinya: Tunjukilah kami jalan yang tegak lurus.
“Saya merinding. Kyai Tar sampai membawa Al-Qur’an untuk meyakinkan. Sepanjang saya mendengar beliau bercerita, ini adalah kali pertama beliau menyampaikan hal tersebut", tutur Binhad.