ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Jejak Sejarah Bung Karno di Ploso Jombang Menuju Penetapan Cagar Budaya
26 Juni 2025 17:00

Di sisi lain, status lahan tempat situs kelahiran Bung Karno masih tercatat atas nama pribadi. Menurut Binhad, hal ini tidak menghalangi proses penetapan sebagai cagar budaya. Ia menegaskan bahwa undang-undang memungkinkan penetapan dilakukan meskipun lahan masih berstatus milik perseorangan.
“Tanah ini masih milik pribadi, tapi tetap bisa ditetapkan. Bisa saja nantinya dibeli pemerintah, atau tetap dimiliki pribadi", ujarnya.
Penetapan situs sebagai Cagar Budaya memiliki dasar hukum yang kuat sebagaimana tercantum dalam UU No. 11 Tahun 2010.
Cagar Budaya didefinisikan sebagai warisan budaya bersifat kebendaan yang memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan.
Penetapan resmi menjamin perlindungan hukum dan pelestarian nilai sejarah di dalamnya.
Upaya Mendorong Penetapan Situs Sejarah di Ploso
Sejumlah pihak telah melakukan berbagai upaya untuk mendorong penetapan situs kelahiran Bung Karno.
Langkah awal dimulai dari pengajuan resmi oleh keluarga Situs Ndalem Pojok Persada Soekarno Kediri, yang didukung oleh arsip dan data sejarah keluarga.
Menindaklanjuti pengajuan tersebut, Disdikbud mengarahkan TACB Jombang untuk melakukan kajian mendalam.
“Saya bersurat ke Pemkab pada 6 Juni 2023. Berisi surat permohonan agar tempat kelahiran Bung Karno di Jombang bisa dilestarikan melalui penetapan resmi. Dari situlah TACB mulai bergerak mengkaji. Itu pengajuan secara resminya. Tapi sejarawan lain sudah menelusuri jauh sebelum 2023,” jelas Kuswartono.
Kajian dilakukan oleh TACB, bersama sejarawan, tokoh masyakarat, dan keluarga Situs Persada Kediri yang secara aktif menggali bukti-bukti historis melalui dokumen, arsip, wawancara saksi, hingga penelusuran silsilah keluarga Bung Karno.
Binhad kembali menjelaskan bahwa proses pengumpulan data dilalui dengan menelusuri arsip dan pertukaran informasi antar komunitas sejarawan.
"Saya membuka beberapa perpustakaan yang menyimpan koran-koran berbahasa Belanda, lalu mendatangi lembaga-lembaga arsip seperti ITB. Kami juga saling bantu lewat komunitas, ada pertukaran arsip. Selain itu, saya banyak mewawancarai warga untuk menelusuri informasi lisan yang kemudian bisa dipadukan dengan arsip visual atau dokumen".
Proses penyesuaian informasi seringkali memakan waktu bertahun-tahun, terutama ketika menghubungkan cerita lisan dengan bukti fisik seperti foto atau lokasi. Nama-nama desa yang berubah dari masa ke masa.
“Ada foto-foto lama yang awalnya tak bisa bicara apa-apa. Tapi 5 tahun kemudian, ada warga yang mengenali wajah-wajah dalam foto itu, menyebutkan nama, rumah, hingga makamnya. Dari situ kita bisa mengaitkan lagi ke cerita-cerita awal, lalu menemukan keterangannya,” tambahnya.
Setelah seluruh data dianggap lengkap dan memenuhi unsur sejarah yang kuat, TACB merekomendasikan kepada Pemkab. Jombang melalui Disdikbud, agar situs kelahiran Bung Karno di Ploso ditetapkan sebagai cagar budaya.
Tindak lanjutan berikutnya, pada 15 Oktober 2024 digelar Seminar Kebangsaan bertajuk "Jejak Tokoh Bangsa di Jombang", dalam Festival Jombang 2024. Pada forum ini, dipaparkan hasil penelitian dan bukti-bukti sejarah kelahiran Bung Karno.
Seminar ini menghasilkan delapan poin rekomendasi, di antaranya; penetapan Ploso sebagai situs kelahiran Bung Karno, pembebasan lahan di lokasi-lokasi terkait, rekonstruksi rumah masa kecil, serta integrasi sejarah Bung Karno ke dalam muatan lokal pendidikan.
Adapun kawasan yang diusulkan sebagai situs, mencakup lima titik yang berkaitan erat dengan masa kecil Bung Karno di Ploso, di antaranya: rumah kelahiran di Gang Buntu Desa Rejoagung, Langgar Kedung Turi tempat Bung Karno kecil mengaji yang kini menjadi Masjid Baitush Shiddiqin di lingkungan Pesantren Shiddiqiyyah, serta Sekolah Desa di Rejomulyo, tempat Bung Karno sekolah yang kini berubah fungsi menjadi Terminal Ploso.
Dua titik lainnya adalah Sekolah Ongko Loro, tempat ayah Bung Karno mengajar sejak 1901 dan kini hanya tersisa puing fondasi, serta SD Negeri Ploso 1 sebagai kelanjutan jalur pendidikan dasar Bung Karno.

- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon