Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Ciptakan Syair Kebangsaan, Shiddiqiyyah Konsisten Mensyukuri Kemerdekaan Tiap Bulan Romadlon

10 Maret 2025 15:30

Ciptakan Syair Kebangsaan, Shiddiqiyyah Konsisten Mensyukuri Kemerdekaan Tiap Bulan Romadlon

JOMBANG - Konsisten dilakukan oleh Jama'ah Thoriqoh Shiddiqiyyah, Tasyakuran Nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ke – 82 menurut kalender hijriyyah berlangsung di Pesantren Majma'al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah Pusat, Ahad (09/03/25).

Syukuran ini dilaksanakan dengan do’a bersama yang disebut “Sujud Syukur”.

Bersumber dari seruan Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi kepada seluruh murid Thoriqoh Shiddiqiyyah agar mentasyakuri dua nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut kalender masehi pada 17 dan 18 Agustus, juga berdasarkan kalender hijriyyah tiap tanggal 9 dan 10 Syahru Romadlon.

Sujud Syukur merupakan rangkaian do’a khusus untuk mensyukuri Kemerdekaan Bangsa dan berdirinya NKRI yang disusun oleh Syekh Moch. Mukhtarulloil Mujtaba Mu’thi dan diamalkan oleh warga Thoriqoh Shiddiqiyyah, do’a ini ditujukan dengan tiga permohonan kepada Alloh:

  • Memohon agar Bangsa Indonesia aman, selamat, dan sejahtera.
  • Memohon agar Bangsa Indonesia tetap dalam jatidirinya.
  • Memohon agar Bangsa Indonesia tetap bisa memiliki Indonesia, tetap menikmati Indonesia, dan tetap mensyukuri Indonesia. 

Di bulan Romadlon, Sujud Syukur dilaksanakan dalam dua hari,  tanggal 9 malam 10 Syahru Romadlon untuk mentasyakuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan tanggal 10 malam 11 Syahru Romadlon mentasyakuri berdirinya Negara kesatuan Republik Indonesia.

Menurut pimpinan Thoriqoh Shiddiqiyyah, kemerdekaan bangsa dan berdirinya NKRI adalah dua nikmat agung seperti lautan nikmat yang tidak bertepi, “Oleh sebab itu saya buatkan syair yg judulnya Jangan Lupa Jangan Lengah terhadap dua nikmat tersebut. Syair yg saya buat itu tidak banyak, hanya beberapa bait. Tetapi saya akan membuat syair itu membutuhkan referensi kitab sampai 120 kitab referensinya. Syairnya pendek, sumbernya 120 kitab. Ada pertama kitab Qur-an, dua kitab hadits-hadits sohib, kitab tasawuf yg begitu banyak dan lain lainnya. Itu sumber referensinya” terang beliau.

Adapun bait syairnya demikian:

Jangan kamu lupa jangan kamu lengah, atas berkat rochmat Alloh Maha Kuasa

Dengan berkat rochmat Alloh Maha Kuasa, Bangsa Indonesia telahlah merdeka.


Jangan kamu lupa jangan kamu lengah, atas berkat rochmat Alloh Maha Esa

Dengan berkat rochmat Alloh Maha Esa, berdirilah Negara Republik Indonesia.


Jangan kamu lupa jangan kamu lengah, atas berkat Rochmat Alloh Maha Pemurah

Dengan Berkat Rochmat Alloh Maha Pemurah, kita wajib syukur akanlah nikmatNYA.


Syair ini mulai disusun oleh Sang Mursyid pad tahun 1960 dan kini dilantunkan di tiap acara yang diadakan oleh warga Thoriqoh Shiddiqiyyah, baik dalam ceremonial maupun do’a bersama.

Sang Mursyid di momen tasyakuran ini mengingatkan lagi bahwa 17 Agustus 1945 adalah momen kemerdekaan Bangsa Indonesia bukan kemerdekaan Republik Indonesia, dan pada 18 Agustus 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia baru didirikan. Sehingga frasa Dirgahayu RI tidak sesuai dengan sejarah, tidak cocok dengan teks Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Lebih lengkapnya telah kami ulas dalam tautan berikut: Kesalahan Berlogika Dalam Frasa "Kemerdekaan Republik Indonesia. 

Tak hanya di Losari-Ploso-Jombang, pusat ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah berada. Sujud syukur ini juga dilakukan oleh Jama'ah Thoriqoh Shiddiqiyyah diberbagai daerah seluruh Indonesia Raya bahkan luar negeri. (OPSHID MEDIA)

 

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Nuraida