ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Keraton Surakarta Mohon Petunjuk Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Tentang Cinta Tanah Air
· 3 menit baca · Diperbarui
Keraton Surakarta juga minta restu mengenai rencana penerapan nilai-nilai cinta tanah air yang akan diwujudkan melalui upacara pada 17 dan 18 Agustus 2024, dalam rangka mensyukuri nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya NKRI.
"Keraton Surakarta meminta izin kepada Sang Guru mengenai upacara, barangkali pasukan keraton bisa bergandengan dengan HAS Shiddiqiyyah, atau pihak yang ikut berpartisipasi", tutur Bapak Sahuri
Rencananya, upacara tersebut akan disambungkan dengan umbul dungo, yakni tradisi keagamaan dan budaya yang melibatkan do'a bersama untuk menghormati leluhur. Kemudian dilanjutkan chaos dhahar, sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan bagi keraton dan NKRI.
Tidak hanya menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya, rombongan Keraton Surakarta memberikan cinderamata berupa blankon sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih kepada Kyai Moch. Mukhtar Mu'thi.
"Blankon yang diberikan ialah blankon utama. Blankon khusus yang dikenakan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono XIII di istana Keraton Surakarta Hadiningrat", ungkap Bapak Sahuri.
Pada pertemuan tersebut, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah juga memberikan petunjuk tentang pentingnya mempelajari serat (kitab -red) keraton Surakarta. Di antaranya: serat Hidayah Jati yang disusun oleh pujangga Ronggowarsito dan serat Wulang Reh yang disusun oleh Pakubuwono IV.
"Sang Maha Guru berpesan (kepada Kasunanan Surakarta Hadiningrat) supaya memiliki serat tersebut. Karena serat ini menjadi panduan untuk mempelajari akhlaq tingkat tinggi dan tassawuf lebih dalam lagi. Beliau juga dawuh, dengan mempelajari kitab ini harapannya bangsa Indonesia bisa mikul duwur mendem jero (menjunjung tinggi sesuatu yang baik, mengubur sedalam-dalamnya sesuatu yang jelek -red), sebagai salah satu Jati Diri Bangsa Indonesia", pungkas Bapak Sahuri.
Secara tidak langsung, di tengah berbagi polemik saat ini, masih ada golongan yang peduli akan nasib Bangsa Indonesia di masa mendatang, agar lahir generasi yang berjiwa cinta tanah air dan cinta NKRI haqqul yaqin. (OPSHID MEDIA)
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari