ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Asep: Relakan Rumah Untuk Keluarga, Dapat Ganti Lebih Baik
15 Juli 2025 16:59
DARI PENGABDIAN MENUJU KEBAHAGIAAN
Asep sendiri merupakan 7 bersaudara, sebagian besar saudaranya tinggal di Pelabuhan Ratu, dan di Bogor. Pernikahan Asep selama 24 tahun telah dikaruniai tiga orang anak, 2 diantaranya masih menempuh jenjang akademik sedangkan anak sulungnya tengah bekerja di pemerintahan daerah.
Asep mengawali masuk Thoriqoh Shiddiqiyyah dengan mengikuti salah satu Kholifah terlebih dahulu, lalu secara perlahan mulai membiasakan diri dengan kegiatan yang ada di pesantren. Di samping itu Asep sendiri merupakan pekerja lepas (serabutan), mulai dari berdagang di warung atau bekerja di bangunan.
“Saya sih serabutan sebetulnya, kalo ada pekerjaan pembangunan ya borong gitu. Ya kesehariannya saya jualan, kaya kemaren jualan ayam potong, jualan kopi kaya gitu lah, warung masih punya, cuman tutup dulu,” ujarnya.
Tak hanya untuk dirinya dan keluarga, ia juga kerap kali membantu teman-temannya dalam perekonomian. Asep lanjut bercerita, “Kalo ngeborong si saya ngga ngeborong total, sub materialnya, kadang-kadang ya pekerjaannya nyari orang kerja, bantu-bantu kawan lah, kawan yang dapet proyeknya, saya yang bantu nyari pekerja, nyari material gitu aja sih. Ya cukup lah buat menghidupkan keluarga."
Di tempat tinggalnya, Asep juga menjadi bagian dari Organisasi Masyarakat (ormas), menjadi penghubung di sekeliling masyarakat. Saat kegiatan pesantren terjadi seperti shodaqoh, zakat, atau kegiatan lainnya, ia yang akan membantu mengurusi hal tersebut.
Sampai saat ini baik masyarakat ataupun ormas hingga pemerintah setempat menyambut dengan baik, dan begitu menghargai adanya pesantren Shiddiqiyyah di sana. “Alchamdulillah sesudahnya saya ada di situ ya, kebetulan saya orang ormas juga, jadi saling menghargai lah, karena keberadaan saya disitu. Warga emang menyambut baik, karena pesantren disitu tidak mengajarkan yang diluar jalur, warga juga santunan ke warga sekitar itu satu tahun berkali-kali gitu kan, jadi mereka merasa terbantu juga,” jelas Asep.
Dari kesabaran Asep menyikapi hidup selama ini, mengantarkannya pada banyak sekali kebaikan. Salah satu berkah yang ia terima, berbentuk rumah syukur yang akan menjadi tempat tinggal baru untuknya dan keluarga.
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang