ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Pernyataan Merdeka Bangsa Indonesia: Pelecehan Kehormatan Sekutu
17 Agustus 2025 19:00
BELUM KERING TINTA PROKLAMASI, SERANGAN KEMBALI DATANG
Jum’at Legi, 17 Agustus 1945 Indonesia akhirnya memproklamasikan kemerdekaannya. Meski demikian, Sekutu sebagai pihak pemenang Perang Dunia II merasa berhak mengambil alih wilayah bekas jajahan Jepang, termasuk Indonesia. Berbagai kekuatan asing kembali datang. Salah satunya adalah pasukan AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies).
Belum genap satu bulan merdeka, Pasukan AFNEI yang dipimpin oleh Letjen Sir Philip Christison bersama NICA (Netherlands Indies Civil Administration) mendarat di Tanjung Priok pada 15 September 1945. Mulanya, tujuan resmi AFNEI adalah melucuti senjata tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang, namun kehadiran mereka yang disertai NICA justru memicu konflik meluas dengan rakyat Indonesia.
Ketegangan kembali memuncak, rakyat Indonesia menganggap kemerdekaan yang telah diraih sedang terancam, hingga melahirkan perlawanan rakyat terhadap upaya penjajahan baru.
PERLAWANAN TERJADI DI BERBAGAI DAERAH
Bangsa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 ditandai dengan proklamasi yang berlangsung di Jakarta. Sejak saat itu, Indonesia menjalankan pemerintahan sendiri: membentuk sistem negara, kementerian, UUD 1945, dasar negara, membentuk lembaga negara, serta memiliki tentara (BKR/TKR).
Namun, dalam kurun waktu tahun 1445-1447 perlawanan besar-besaran terjadi di berbagai wilayah. Sekutu mulai berdatangan menginjakkan kakinya di tanah air, berupaya merebut kembali kekuasaannya.
Seperti yang terjadi di Medan pada 9 Oktober 1945, dipimpin oleh Ted Kelly, diikuti NICA yang mencoba menguasai pemerintahan. Rakyat dan pemuda membentuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat) cikal bakal TNI dan terjadilah konflik 13 Oktober 1945. Ultimatum dan serangan Sekutu terus berlanjut hingga Desember 1945
Di wilayah lain, tepatnya di Surabaya pertempuran besar terjadi dan menewaskan Jenderal Inggris Brigadir A.W.S Mallaby. Mengetahui itu, Sekutu mengeluarkan ultimatum yang ditolak mentah-mentah oleh arek-arek Surabaya dan sekitarnya— memicu puncak pertempuran pada 10 November 1945, yang kini dikenal Hari Pahlawan.
Pertempuran di Bandung-Jawa Barat, ketika rakyat mendapat ultimatum dari Sekutu dan NICA agar sesegera mungkin mengosongkan wilayah Bandung. Tak mengindahkan ultimatum tersebut, rakyat dan para pejuang membumi hanguskan kota Bandung agar tidak bisa diduduki penjajah. Kini, perlawanan itu dikenal dengan Bandung Lautan Api.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, perjuangan rakyat Indonesia berlangsung secara luas dan intens di berbagai wilayah — dari medan pertempuran di kota besar hingga konflik lokal di pulau-pulau. Setiap peristiwa menggambarkan determinasi tinggi dalam mempertahankan kemerdekaan, sekaligus menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan yang gigih.
- Santunan Nasional ke-22 Capai Miliaran Rupiah, Mursyid Shiddiqiyyah Berpesan: Jangan Terlena Tipu Daya Dunia
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya