Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Syekh Mukhtar Mu’thi: Rumah Gratis Shiddiqiyyah Wujud Amal Lestari yang Paling Dicintai Alloh

· 2 menit baca · Diperbarui

Syekh Mukhtar Mu’thi: Rumah Gratis Shiddiqiyyah Wujud Amal Lestari yang Paling Dicintai Alloh

DIY — Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu’thi menegaskan bahwa amal kebaikan terbaik di sisi Alloh SWT adalah kebaikan yang berkesinambungan dan lestari, bukan sekadar kemeriahan sesaat (sak gebyaran). Ini disampaikan dalam Pitutur Luhur Syekh Mukhtar pada Kunjungan 3 Ibadah di Jaami’atul Mudzakkirin Yarjuu Rochmatalloh Shiddiqiyyah di Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahad (04/09/2026) pagi.

Pitutur Luhur beliau menegaskan hadits berikut:

 أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Achabbul a’maali ilalloohi adwamuha wa in qolla

"Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang lestari, meskipun sedikit."

“Dalam hadits tersebut, ada tekanan ‘amal yang paling disukai’. Semua amal disukai oleh Alloh, tapi yang paling disukai amal baik yang lestari. Bukan amal baik yang sesaat. Sebab amal yang Lestari itu amal baik yang faktanya bisa dibuktikan, dirasakan, oleh manusia banyak, kapanpun, dalam keadaan apapun. Lain dengan amal yang tidak lestari. Setelah beramal, tidak lestari. Tidak ada kelanjutannya.” Terang Sang Mursyid dalam Pitutur Luhurnya.

Salah satu contohnya adalah dalam peringatan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Puluhan hingga ratusan miliar rupiah dihabiskan demi gemebyar peringatan  kemerdekaan di bulan Agustus, namun menurut Beliau hanya merupakan kegembiraan sesaat, sak gebyaran. “Sekarang ramai, tidak perlu nunggu bulan lain, hari yang lain saja sudah tidak bisa dinikmati”.

Tetapi apabila mensyukuri kemerdekaan Bangsa dengan membangun rumah gratis, seperti program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah, kegembiraan yang dirasakan lestari.

“Bagaimana kegembiraan hatinya orang yang menerima rumah layak huni seluruh Indonesia yang sudah ribuan? Bisa dinikmati oleh anak, putu, dan lain-lainnya. Kegembiraannya itu Lestari. Nah lestarinya mengalami kegembiraan itu memantul kepada orang yang bershodaqoh. Dan memantul kepada keluarganya. Tapi kalau tidak diwujudkan berupa amal yang lestari, tidak bisa dinikmati beberapa tahun.” Terang Syekh Mukhtar.

Hadits ini, menurut beliau, singkat tapi mencakup seluruh amal yang lestari. Cekak tapi cukup.

Cekak kaliimatnya, tapi cukup luas artinya.

Cukup untuk menjadi pedoman hidup.

Cukup untuk menjadi dasar hidup.

Cukup untuk menjadi kiblatnya hidup.

Cukup untuk menjadi nilainya hidup.

Cukup untuk menjadi sinar hidup.

Cukup untuk menjadi kesempurnaan hidup.

Cukup untuk menjadi kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Syekh Mukhtar Mu’thi kemudian menutup Pitutur Luhurnya dengan pesan agar seluruh murid Shiddiqiyyah mengingat-ingat isi hadits tersebut. Beliau juga menyampaikan harapan, “mudah-mudahan pitutur luhur saya yang cekak ini bisa menjadi penggugah perasaan murid-murid Shiddiqiyyah, hingga menjadi semangat, kompak, tertib, lestari, dan sebagainya”.

Pesan Sang Mursyid tersebut hendaknya menjadi penyemangat bagi warga Shiddiqiyyah dalam menjalankan program Rumah Layak Huni Shiddiqiyyah, baik dalam mensyukuri Kemerdekaan Bangsa, mensyukuri Sumpah Pemuda, maupun momen-momen lainnya. Sehingga Alloh memberikan ridlo-Nya kepada kita melalui ridlo Sang Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah. (OPSHID Media)

Penulis:

Editor: Nuraida