ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Hikmah Safari Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah: Rahasia Sungai Emas dan Nikmat Hidup
29 Juli 2024 17:00

Hikmah Hadits Nabi: Perjuangkanlah Lima Perkara Sebelum Datangnya Lima Perkara
Perintah Rosululloh dalam Hadits:
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِ كَ فِرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ
Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtaba Mu’thi mengartikan secara lengkap Hadits di atas: “Perjuangkanlah menurut kemampuanmu lima sebelum kedatangan lima. Pertama hidupmu perjuangkanlah sungguh-sungguh sebelum datangnya matimu. Sehatmu sebelum datangnya sakitmu. Mudamu perjuangkan sebelum datangnya tuamu. Kesempatanmu sebelum datangnya kerepotanmu. Kayamu perjuangkan sebelum datangnya fakirmu.”
Dalam hadits di atas yang pertama disampaikan adalah perjuangkanlah hidupmu sebelum matimu. Karena hidup adalah dasarnya segala nikmat. Adanya manusia bisa merasakan nikmatnya mata sebagai penglihatan, nikmatnya telinga sebagai pendengaran, nikmatnya nafas, hanya ketika ruh masih dalam jasad.
Syekh Muchammad Mukhtarulohil Mujtabaa Mu’thi menyampaikan “Karena urip itu dasarnya segala nikmat Alloh tujuh langit tujuh bumi. Contohnya, kalau nikmat mata sudah tidak bisa menikmati karena buta, tapi nikmat telinga masih bisa menikmati suara. Kalau nikmat telinga sudah budek, tapi nikmat hidung masih bisa menikmati mencium bau wangi, bau busuk, dan sebagainya. Seandainya nikmat yang diberikan di hidung itu sudah tidak ada, tapi lisan masih bisa menikmati, bisa merasakan enak tidak enak dan sebagainya. Tapi kalau nikmat hidup dijabut, rontok semuanya. Nikmat di mata rontok, nikmat di hidung rontok, nikmat di telinga rontok, itu namanya robohlah semua pilar-pilar nikmat. Jadi nikmat hidup didahulukan, ini hikmahnya.”
Dalam Al Qur-an surat Luqman ayat 20, diterangkan secara garis besar nikmat ada dua macam: dhohir, yang bisa ditangkap panca indra manusia; dan bathin, tidak bisa ditangkap dengan panca indra, karena letaknya ada dalam hati.
Nikmat yang diberikan Alloh kepada manusia tidak bisa dihitung bahkan sepanjang hidup manusia tidak akan cukup. Sebagaimana firman Alloh dalam Al Qur-an surat Nahl ayat ke-18 dan surat Ibrohin ayat ke-34, yang artinya “Jika kamu menghitung nikmat Alloh, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”
Setelah nikmat hidup diambil, manusia akan dikumpulkan di padang makhsyar untuk ditimbang amalnya. Apakah mendapat balasan syurga atau neraka.
Yang bisa masuk syurganya Alloh hanya orang yang sudah bisa “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun” (Sesungguhnya kami milik Alloh, dan sungguh kepada-Nya dikembalikan).
Bagaimana mencapainya?
Dilambangkan oleh bangunan Candi Borobudur yang bertingkat-tingkat. Perlambangan manusia untuk kembali kepada Sang Pencipta.
Di tingkat bawah, terlihat jelas stupa berwujud seorang budha. Semakin ke atas, semakin tertutup batu. Dari yang masih memiliki lubang, hingga puncaknya yang tertutup sempurna.
Batu berlubang ini menurut Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, perlambang manusia masih mempunyai hubungan ketertarikan dengan dunia. Ketika wafat menjadi sakarotul maut.
“Maka saya sampaikan supaya banyak shodaqoh, untuk mengurangi jeratan materi, supaya bisa Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun”. Begitu dawuh Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi setelah menyampaikan hal di atas. (OPSHID Media)
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan