ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kretek Mematikan, Mematikan Bagi Siapa?
03 Oktober 2026 09:00 · 6 menit baca
Cerita ini dimulai dari obrolan di warung kopi.
Cak Mat dan Yudi menghabiskan sore yang sejuk itu dengan cangkruk—kebiasaan orang Jawa menghabiskan waktu di warung kopi bersama kawan dekat. Mereka memilih tempat duduk di teras warung yang rindang di bawah pohon mangga, menghadap ke jalanan desa yang lengang dan hamparan sawah hijau. Para petani sudah pulang, dan anak-anak berlarian kecil sambil menerbangkan layang-layang.
Suasananya santai, dengan kretek di tangan dan cangkir kopi di atas meja. Asap kretek naik pelan ke langit-langit warung. Lalu muncullah sebuah pertanyaan nyeleneh dari Yudi, yang membuat obrolan santai sore itu menjadi menukik dalam.
"Kenapa ya, kretek seenak ini bisa dicap produk yang mematikan?"
Cak Mat menyeruput kopi sambil tersenyum kecil. Ia meletakkan cangkir, lalu menyeletuk, "Mungkin memang mematikan. Tapi yang dimatikan bukan orang yang mengisapnya. Yang dimatikan itu sumber pendapatan orang kaya!" Ia terkekeh.
"Maksudnya gimana?" tanya kawannya, heran.
"Begini, Bro. Coba lihat industri kretek. Kretek ini satu-satunya komoditas Indonesia yang dari hulu ke hilir berasal dari kita sendiri, milik kita sendiri, dan dikerjakan orang kita sendiri! Yang lebih penting lagi, meski di mana-mana didandani jelek, penikmat kretek ya tetap kita sendiri!"
"Hulu ke hilir itu maksudnya sampai mana?"
"Dari ujung ke ujung. Tembakaunya dari Temanggung, Madura, Jember. Cengkehnya dari Maluku, Sulawesi, Jawa. Yang melinting ibu-ibu di Kudus, Malang, Kediri, Jombang. Yang jual warung kayak gini. Yang ngisep ya kita. Coba sebutkan satu barang lain yang ceritanya begitu utuh."
Kawannya diam sebentar sambil menggaruk dagu. "Kopi?"
"Kopi kita ekspor, Bro. Yang bikin mahal justru kafe-kafe luar negeri. Kretek beda. Kretek lahir di sini, besar di sini, dan sampai sekarang pasarnya di sini."
"Lahir di sini gimana?"
"Akhir abad ke-19, di Kudus, ada orang namanya Haji Djamhari. Ceritanya dia sering sesak dada, terus coba gosok dada pakai minyak cengkeh. Enakan. Terus kepikiran, gimana kalau cengkehnya dirajang dan dicampur ke lintingan tembakau. Pas dibakar bunyinya kretek-kretek. Dari situ namanya."
"Oh, jadi nama kretek itu dari bunyi?"
"Iya. Coba dengerin punyamu." Ia mendekatkan telinga ke kretek kawannya yang sedang diisap. Bunyi gemeretak kecil terdengar. "Nah. Itu cengkeh yang terbakar. Itu tanda kretek sejati."
"Kretek sejati? Emang ada yang palsu?"
"Bukan palsu, tapi ada yang sudah lupa asal-usul. Kretek sejati itu jujur bahannya: tembakau, cengkeh, saus dari rempah. Bahan alam semua, diracik dengan resep yang turun-temurun. Tiap pabrik punya rahasia sausnya sendiri, kayak tiap ibu punya resep sambel sendiri. Makanya rasa kretek itu kaya. Ada manisnya, pedasnya, hangatnya. Rokok putih mana bisa begitu."
"Tapi tetap aja rokok, kan? Ya ada risikonya."
"Tapi kretek gak sama kayak rokok konvensional bro. Yang punya ‘resiko’ itu rokok yang pake tembakau sintetis, dan pakai bahan kimia. Apalagi yang pake baterai, dan ada rasa-rasanya itu. Nggak masuk blas! Dan ini yang aku persoalkan: kenapa yang dimusuhi paling keras justru kretek? Kenapa yang dicap paling jahat justru yang paling kita?"
"Nah, itu. Kenapa?"
Cak Mat menyalakan kretek baru, mengisapnya dalam-dalam, lalu mulai menghitung pakai jari.
"Satu. Lihat duitnya. Menurut data dari Kemenkeu, cukai yang masuk ke negara setiap tahun itu lebih dari dua ratus triliun rupiah, sebagian besar dari rokok. Dua ratus triliun, Bro. Itu buat bangun jalan, bayar rumah sakit, macam-macam. Dan rokok yang paling banyak diisap di negeri ini ya kretek."
"Wah."
"Dua. Lihat orangnya. Kementerian Perindustrian pernah nyebut sekitar enam juta orang hidupnya bergantung pada industri ini. Petani tembakau, petani cengkeh, buruh linting, sopir truk, pedagang asongan, sampai mbak yang jaga warung ini." Ia melirik penjaga warung yang sedang mencuci cangkir. "Kalau kretek mati, yang pertama kena bukan direktur. Yang pertama kena ibu-ibu pelinting yang tiap pagi berangkat ke pabrik jam enam."
"Terus yang ketiga?"
"Tiga. Ini yang jarang orang tahu." Ia mencondongkan badan. "Tahun 2009, Amerika bikin aturan: rokok beraroma dilarang. Kedengarannya adil, ya? Tapi coba tebak yang dilarang apa aja."
"Apa?"
"Rokok cengkeh dilarang, rokok mentol boleh. Padahal rokok mentol itu produk perusahaan besar Amerika sendiri. Kretek kita yang kena, produk mereka aman."
"Lho, kok bisa?"
"Bisa dong, yang bikin aturan kan mereka. Tapi Indonesia nggak diam. Kita gugat ke WTO, dan tahun 2012 kita menang. WTO bilang aturan itu diskriminatif. Jadi ini bukan teori warung kopi, Bro. Ini tercatat."
Yudi bersandar ke dinding, mencerna. "Berarti yang dilawan bukan rokoknya, tapi siapa yang bikin rokoknya."
"Nah, sekarang kamu nangkep." Ia tersenyum. "Terus lihat juga, pabrik-pabrik kretek besar kita satu per satu dibeli perusahaan asing. Yang dulu milik keluarga di Surabaya, di Malang, sekarang pemiliknya di luar negeri. Mereka nggak mau kretek hilang, mereka mau kretek jadi punya mereka. Yang dipersulit ya pabrik-pabrik kecil yang masih berdiri sendiri."
"Dipersulit gimana?"
"Aturan dibikin seragam, seolah semua rokok sama. Padahal kretek itu beda bahan, beda cara bikin, beda sejarah. Pabrik besar gampang menyesuaikan, modalnya tebal. Pabrik kecil di desa? Satu aturan baru aja bisa bikin gulung tikar. Pelan-pelan yang tersisa tinggal yang besar-besar, dan yang besar-besar itu... ya kamu tahu sendiri pemiliknya siapa."
Hening sebentar. Asap dua kretek bertemu di udara, lalu pecah pelan.
"Jadi tadi maksudmu 'mematikan sumber pendapatan orang kaya'..."
"Iya. Selama kretek masih milik kita, ada duit besar yang nggak bisa mereka ambil. Enam juta orang yang nggak bisa mereka atur. Dan satu rasa yang nggak bisa mereka tiru, karena resepnya ada di dapur-dapur pabrik kita, bukan di laboratorium mereka."
Kawannya mengangkat kreteknya, memandanginya agak lama, seperti baru pertama kali melihat.
"Kok rasanya sekarang beda ya ngisepnya."
"Rasanya sama, Bro. Yang beda kamu. Sekarang kamu tahu apa yang sedang kamu pegang."
Yudi menghabiskan kopinya, lalu memanggil penjaga warung.
"Mbak, kopi dua lagi. Obrolan kayak gini nggak cukup satu gelas."
Disclaimer: Cak Mat dan Yudi adalah tokoh fiktif belaka.
Baca juga: Kretek: Harta Karun Indonesia Yang Dianaktirikan
Semua data di naskah sudah dicek ke sumber (lihat Sumber di bawah);
Status data
Sumber
- Kretek Mematikan, Mematikan Bagi Siapa?
- Dukung Rumah Gratis OPSHID, 2 Batalyon Brimob Pekalongan Turun Membantu
- Syukuri Sumpah Pemuda, Para Pemuda Ini Bangun 59 Unit Rumah Gratis
- Pesan Cinta Rumi Untuk Dunia, Syekh Mukhtar Mu'thi: Tanda Kebangkitan Tashawwuf
- Tambah Satu Unit, Yatim Piatu di Ngawi Terima Rumah Gratis dari OPSHID
- Pembangunan Rumah Gratis Yang Hadir Membawa Nilai Keimanan dan Kemanusiaan
- Tinggalkan Rumah Kayu, Buruh Tani di Jombang Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Kuli Batu di Pasuruan Tak Menyangka Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Realisasikan Ajaran Al Qur-an, Santri MQ Wujudkan Syukur Menjadi Aksi Bangun Rumah
- OPSHID Sidoarjo Bangun Rumah Layak Huni untuk Warga Boro