ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Hamba Yang Bersyukur Adalah Tujuan Tertinggi di THGB
· 3 menit baca
Dalam ceremonial tersebut, Sang pendiri THGB menyampaikan tentang pentingnya pendidikan dan pentingnya 'syukur'. Beliau menegaskan bahwa 'syukur' tidak boleh lepas dari setiap acara yang diselenggarakan oleh organisasi di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah, khususnya di Tarbiyyah Hifdhul Ghulam Wal Banat. Karena hal ini berkaitan erat dengan tujuan didirikannya THGB yakni mendidik generasi yang bersyukur atau Abdan Syakuro.
"Ulang tahun apapun kata-kata syukur jangan ditinggalkan, apapun bentuknya kata-kata yang lain. Jadi, mensyukuri ulang tahun THGB", tegas Sang Maha Guru.
Selain itu, seluruh rangkaian acara yang berlangsung dihadiri oleh siswa-siswi dan para guru THGB, mulai dari TK Ibu, Bustanul Ula (setara SD), Bustanuts Tsani (setara SMP), Bustanuts Tsalits (setara SMA), Al Isti’daadu Lil Maqooshidil Qur-aan (IMQ), Maqooshidul Qur-aan (MQ), IKHWAN Roudlur Riyaachin, Wali Talqin, dan perwakilan dari organisasi-organisasi di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Dalam mendidik murid-muridnya, THGB memiliki latar belakang bernafaskan ajaran Tashawwuf. Dengan kata ini, tak heran jika timbul dalam jiwa-jiwa murid THGB semangat menyambut kebangkitan Tashawwuf Dunia.
Secara bahasa, Tarbiyyah Hifdhul Ghulam Wal Banat memiliki arti pendidikan penjagaan anak laki-laki dan perempuan. Dengan maksud, menjaga fithroh dalam jiwa anak laki-laki dan perempuan. Yang mana pada dasarnya fithroh itu ada dua, yakni fithroh taqwa (sifat baik) dan fithroh fujur (sifat buruk).
Maka fokus utama pendidikan THGB adalah menumbuhkembangkan fithroh taqwa dan menekan fithroh fujur, agar menjadi hamba yang senantiasa bersyukur kepada Tuhannya, bersyukur kepada sesama manusia dan bersyukur kepada alam semesta. (OPSHID Media)
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari