ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Terang dan Gelapnya Bulan Asyuro
· 2 menit baca · Diperbarui
JOMBANG - Pondok Pesantren Shiddiqiyyah mengadakan Pengajian Taubat Bersama yang dipimpin langsung oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Al Mukarrom Bapak Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi Syekh Mukhtarulloh Al Mujtabaa, Jum’at 10 Muharrom 1445 H / 28 Juli 2023 M lalu.
Pengajian Taubat Bersama diadakan setiap memasuki bulan Muharrom atau bulan Suro, tepatnya pada tanggal 10 Muharrom dan dipimpin langsung oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Al Mukarrom Bapak Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi Syekh Mukhtarulloh Al Mujtabaa di pusat ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah yaitu di desa Losari, Kec. Ploso, Kab. Jombang.
Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah menyampaikan bahwasannya bulan Suro merupakan bulan untuk bertaubat,“Bulan Asyuro ini bulannya taubat”, Pitutur Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Al Mukarrom Bapak Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi Syekh Mukhtarulloh Al Mujtabaa pada malam Pengajian Taubat Bersama.
Sejumlah peristiwa bersejarah kerap terjadi di bulan Suro pada masa lampau, utamanya peristiwa yang berkaitan dengan mu’jizat para Nabi dan keistimewaan lainya,"Bulan Suro adalah bulan hari Rayanya para Nabi, sebelum Nabi Muhammad SAW", Dawuh Sang Murysid. Akan tetapi disisi lain, setelah Nabi Muhammad SAW bulan Suro merupakan bulan yang gelap.
Dikutip dari keterangan Mauidhotul Chasanah Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Al Mukarrom Bapak Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi Syekh Mukhtarulloh Al Mujtabaa pada malam Pengajian Taubat Bersama, beliau menerangkan sisi gelap bulan Suro ialah ketika terbunuhnya cucu kesayangan Nabi Muhammad SAW yaitu Sayyidina Husain karena masalah politik dan fitnah terbesar yang mencoreng umat islam seluruh dunia.

Selain itu Bpk Kushartono atau akrab di sapa Pak Ok selaku perwakilan Yayasan Pendidikan Shiddqiyyah (YPS) dalam sambutannya menyampaikan, bahwa masih dalam nuansa Semangat Menyambut Kebangkitan Tasawuf Dunia, setelah taubat bersama ini Depertemen Kajian Shiddiqiyyah pusat akan mengadakan shodaqoh dan Do'a Bersama Bustan Tsamarotul Qolbin Salim (BTQ) di seluruh Indonesia guna mendorong lahirnya Taubat Nasional Indonesia yang bertujuan untuk meluruskan sejarah frasa Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kemudian Pak Ok juga menyampaikan, bahwa Mentri Dalam Negeri memberi apresiasi mengenai gagasan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan bangsa Indonesia bukan Republik. “Kita wajib bersyukur karena surat yang di ajukan oleh Organisasi Shiddiqiyyah Pusat telah di balas oleh Mentri Dalam Negeri, tentang apresiasi usulan 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan bangsa Indonesia dan 18 Agustus sebagai hari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia”, jelas beliau.
Shodaqoh merupakan ciri khas Thoriqoh Shiddiqiyyah dan yang selalu di nanti-nanti di setaip acara yang diadakan oleh warga Shiddiqiyyah. Terkumpulnya Shodaqoh Spontanitas senilai Rp111.263.500- menjadi bukti pengamalan Shillaturrochmi, Santun dan Shodaqoh yang diajarkan oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Al Mukarrom Bapak Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi Syekh Mukhtarulloh Al Mujtabaa. Adapun keperuntukan Shodaqoh Spontanitas ini sebagai berikut:
• Pembangunan Pesantren Hayya ‘Alaash Sholah Hayya ‘Alaal Falah (HSHF) di Pelabuhan Ratu
• Pembangunan Bustan Tsamarotul Qolbin Salim (BTQ) di daerah-daerah
• Pembangunan Asrama Putra Murobithul Ghulam di Pesantran Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah
• Aset-aset Shiddiqiyyah yang ada di Bandung
• Pembangunan Jami’atul Mudzakkirin di Tanjung Halang Bogor
• Kegiatan di Pesantran Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah
• Pembangunan Jami’atul Mudzakkirin di Donggala Sulawesi Tengah
(OPSHID MEDIA)
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari