Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Bulan Asyuro: Dari Gelap Jahiliyyah Menuju Fajar Islam

06 Juli 2025 17:00

Bulan Asyuro: Dari Gelap Jahiliyyah Menuju Fajar Islam

Memasuki bulan Muharrom atau Suro—bulan pertama dalam kalender Hijriyah—Thoriqoh Shiddiqiyyah menggelar Pengajian Taubat Bersama yang rutin diselenggarakan setiap tanggal 10 Muharrom. Tahun ini, kegiatan tersebut sekaligus bersamaan dengan Tasyakkuran Kebangkitan Tashawwuf Dunia, yang dilaksanakan pada Selasa (5/07/2025).

Untuk pertama kalinya, kedua acara ini dilangsungkan secara bersamaan. Tasyakkuran ini menjadi peringatan tiga tahun dimulainya era Kebangkitan Tashawwuf Dunia, yang ditandai dengan tragedi 7 Juli 2022 di Losari, Ploso, Jombang, Jawa Timur, Indonesia Raya.

Untitled design-3.jpeg (431 KB)

Ribuan jama'ah Thoriqoh Shiddiqiyyah tampak memadati kawasan pesantren, mulai dari area ndalem Sang Mursyid, sepanjang jalan JMYR Pusat, lapangan Chubbul Wathon Minal Iman, hingga lapangan Matahari Terbit. Mereka mengikuti Pengajian Taubat Bersama yang dipimpin langsung oleh Mursyid Thoriqotush Shiddiqiyyah Indonesia, Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi.

Untitled design - 1-3.jpeg (441 KB)

Dalam sambutannya, Ketua Umum Organisasi DHIBRA (Dhilal Berkat Rochmat Alloh), Ibu Nyai Shofwatul Ummah, menyampaikan bahwa sehubungan dengan pengajian Taubat Bersama dan Tasyakkuran Kebangkitan Tasawuf Dunia agar ni’mat kita ditambah, kita harus bersyukur kepada Alloh SWT dan kepada sesama manusia.

Dan di antara perwujudan dari ni'mat tersebut dengan diadakannya pembangunan Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) yang dipersembahkan kepada masyarakat Indonesia yang berhak menerima sesuai ketentuan DHIBRA yaitu kaum du'afa (fakir miskin).

Ibu Nyai juga menegaskan bahwa ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah tidak hanya berfokus pada dzikrulloh, tetapi diajarkan juga untuk peduli kepada sesama manusia melalui macam-macam ibadah sosial.

“Kalau ada yang mengatakan di Shiddiqyyah hanya untuk wiridan saja itu kurang sesuai, yang sesuai adalah yo wiridan untuk diri kita sendiri, juga ibadah sosial untuk membahagiakan orang lain”, tegas Ibu Nyai Shofwatul Ummah.

Di akhir sambutannya, Ibu Nyai menyampaikan rasa terima kasih kepada para relawan yang telah berjasa pada tragedi 7 Juli 2022 lalu.

“Terima kasih kepada para relawan. Semoga panjenengan semua terus semangat dalam menjalankan dan menegakkan Jati Diri Bangsa Indonesia, karena menjadi relawan adalah bagian dari mempertahankan jati diri bangsa,” ujar beliau.

 Untitled design - 2.jpeg (331 KB)

Dalam acara yang sama, mau'idhotul chasanah Syekh Mochammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi menjelaskan tiga syarat mutlak agar taubat dapat diterima oleh Alloh Ta’ala:

1. Mahma ‘Abadtanii“Selama kamu tetap beribadah kepada-Ku.”

2. Mahma Rojawtanii“Selama kamu tetap mengharap rahmat-Ku.”

3. Mahma Laa Usy-rika Bihii Syai’a Laa Ubaali“Selama kamu tidak menyekutukan-Ku dengan apa pun, Aku tidak peduli (ampuni dosamu).”

Beliau juga mengulas makna terang dan gelap dalam bulan Muharrom, yang dikaitkan dengan surat Al-Fajr ayat 1: “وَٱلْفَجْرِ” (wal-fajri). Sang Mursyid menerjemahkan ayat ini sebagai “Perhatikanlah fajar,” yang dimaknai sebagai fajar Islam.

Kegelapan sebelumnya diartikan sebagai zaman jahiliyah, dan fajar muncul yang dimulai dari Kota Yasrib—yang kemudian oleh Rasul disebut sebagai Madinatul Munawwaroh, negara yang cemerlang. 

Syekh Mukhtar juga menyampaikan kisah kelam di malam 10 suro yang menimpa cucu Rosululloh SAW, Hussain bin Ali RA di Karbala. Kar artinya 
tempat makar, Bala tempat balak fitnah besar, maka dinamakan Karbala oleh Husain.

Malam itu juga digelar shodaqoh spontanitas yang terkumpul sebesar Rp137.000.000 (seratus tiga puluh tujuh juta rupiah), jumlah yang sangat besar dalam satu malam.

“Mudah-mudahan taubat kita ini karena cinta karena Alloh, karena Rasululloh, dan karena keluarga Rasul. Mudah-mudahan taubat kita diterima semuanya,” pungkas Sang Mursyid.

Penulis: Maharani Dika Putri

Editor: Nuraida