ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Pilah Sampah: Langkah Awal Mengelola Sampah
12 Juli 2025 15:00
Inovasi baru terakit pengelolaan sampah tengah dilakukan Pesantren Shiddiqiyyah secara mandiri. Program ini merupakan bagian dari realisasi nilai Cinta Tanah Air (CTA) yang selalu diajarkan di pesantren. Selain menjaga kebersihan, mengelola sampah juga menjadi bentuk syukur dan tanggung jawab sebagai manusia yang memiliki hubungan dekat dengan alam.
Program ini mulai berjalan sejak 14 Dzulqo’dah 1446 H atau 12 Mei 2025 M. Lokasinya berada dekat dengan gudang produksi keramik di Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah. Sampah-sampah yang sebelumnya hanya dibuang, kini dikelola kembali melalui sistem daur ulang sederhana.
Menurut Bagas Ar Ridho selaku penanggung jawab lapangan, saat ini pengelolaan sampah difokuskan pada sampah organik. “Sampah-sampah seperti daun, sisa makanan, kami kumpulkan dan dijadikan pupuk kompos. Hasilnya nanti digunakan untuk pupuk taman yang ada di pesantren,” ungkapnya.

Bagas menambahkan, jika program ini berjalan baik, pengelolaan sampah akan diperluas ke sampah non-organik. Sejauh ini, botol plastik dan barang bekas lainnya sudah memiliki tong sampah khusus untuk dikumpulkan dan dijual. Yang mana hasil penjualan botol bekas digunakan kembali untuk operasional kebersihan seperti pembelian sapu dan peralatan lainnya.
Program ini turut melibatkan Murid-murid Isti'daadu Lil Maqooshidul Qur'an (IMQ) dan murid-murid Maqooshidul Qur'an (MQ).
Inisiatif ini digagas langsung oleh Ibu Nyai Shofwatul Ummah. Gagasan muncul saat beliau melihat tumpukan sampah di bak mobil saat kegiatan Albirru di bulan Romadlon yang lalu berlangsung. Beliau kemudian memberikan arahan agar sampah daun tersebut tidak dibuang, melainkan dimanfaatkan menjadi pupuk.
Pesantren Shiddiqiyyah memang memiliki area yang sangat luas dengan tiap sudutnya dikelilingi pepohonan rindang. Tak layak jika sampah daun menjadi perhatian khusus bagi ibu Nyai Shofwatul Ummah agar bisa dimanfaatkan lagi.
Kuswartono selaku pembimbing lapangan menyampaikan bahwa pengelolaan sampah ini sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan alam.
“Sampah selama ini dianggap tidak bernilai. Padahal, kalau diolah bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. Ini bagian dari ibadah sosial. Dalam Al-Qur’an juga diajarkan agar kita tidak membuat kerusakan di bumi,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya, agar tidak menimbulkan masalah seperti bau, tikus, atau pencemaran lingkungan. Ke depan, pihak pesantren merencanakan pengadaan alat pencacah sampah untuk pengelolaan lebih lanjut.
Dengan program ini, Pesantren Shiddiqiyyah berharap bisa menjadi contoh bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal kecil, tapi membawa dampak besar. Bahwa kebersihan bukan hanya soal tempat, tapi juga bagian dari kecintaan pada agama dan tanah air. (OPSHID MEDIA)
- Tinggalkan Rumah Kayu, Buruh Tani di Jombang Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Kuli Batu di Pasuruan Tak Menyangka Dapat Rumah Gratis dari OPSHID
- Realisasikan Ajaran Al Qur-an, Santri MQ Wujudkan Syukur Menjadi Aksi Bangun Rumah
- Setetes Bakti untuk Bangsa dan Negara: Rumah Baru dari Pemuda Shiddiqiyyah Sidoarjo
- Sambut Sumpah Pemuda ke-98, OPSHID Gotong Royong Bangun Rumah Syukur!
- Serah Terima Rumah Syukur Kemerdekaan Unit ke-136, OPSHID Bangun Dengan Desain Berbeda
- Peletakan Batu Pertama Perpustakaan Tashawwuf: Tanda Shiddiqiyyah Semakin Berkembang
- Santunan Nasional ke-22 Capai Miliaran Rupiah, Mursyid Shiddiqiyyah Berpesan: Jangan Terlena Tipu Daya Dunia
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.