ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Siapakah Mbah Imam Puro, Sosok Yang Haulnya Diperingati Bersama 4 Kholifatush Shiddiqiyyah Ngoro?
21 Mei 2024 19:00

JOMBANG - Ratusan jama’ah Shiddiqiyyah menghadiri chaul yang berlangsung di Tri Manunggal Jati, Kuncung, Banyuwarang, Ngoro - Jombang, Sabtu (18/05/24)
Acara tersebut merupakan chaul empat Kholifatush Shiddiqiyyah yakni Almarhum Bapak Duchan Iskandar, Bapak Salaamun, Bapak Sumaji dan Bapak Khozin, yang mana menurut Bapak Fathulloh Rofiudin selaku ketua panitia chaul, keempat kholifatush Shiddiqiyyah tersebut semuanya berasal dari daerah yang sama yakni Kecamatan Ngoro.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Bapak Kyai Moch. Mukhtar Mu'thi menyampaikan, bahwa mulai tahun ini Mbah Imam Puro yang dikenal sebagai sosok pejuang Islam sekaligus pembabat alas Ngoro diikutsertakan dalam chaul empat Kholifatush Shiddiqiyyah.
"Chaul ini saya cakup, pertama chaulnya Kholifah Shiddiqiyyah Duchan Iskandar, kedua chaulnya Kholifah Shiddiqiyyah Salaamun, ketiga chaulnya Kholifah Shiddiqiyyah Sumaji, keempat chaulnya Kholifah Shiddiqiyyah Khozin, kelima diikuti chaulnya Mbah Imam Puro. Semoga lima tokoh tersebut diberi Rochmat oleh Alloh dan diberi maaf serta kebaikan oleh Alloh Ta'ala", pitutur luhur Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Menurut kesaksian Rofiudin, keempat kholifah tersebut merupakan pejuang Shiddiqiyyah tahap awal yang berperan besar dalam perjuangan Shiddiqiyyah. Sedangkan Mbah Imam Puro merupakan pejuang Islam di wilayah Ngoro.
Chaul merupakan agenda rutin yang sudah berjalan dari tahun ke tahun, dan untuk di Ngoro berlangsung setiap tanggal 9 bulan Dzulqo’dah. Di antara tujuan pelaksaan chaul tesebut ialah menyatukan keluarga dzuriyyah (keturunan Kholifatush Shiddiqiyyah-red),"untuk menyatukan keluarga dzuriyyah para kholifah jadi satu, Yadullohi alal jama’ah dan melestarikan ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah”, kata Rofiudin.
Dalam rangkaian acara chaul tersebut, di mulai sejak hari Jum’at dengan Khotmil Qur-an serta pembacaan Qulhu, kemudian pada hari Sabtu dilanjut do’a kautsaran yang dihadiri kurang lebih 900 jama'ah Shiddiqiyyah.
"Masalah chaul, masalah ziarah kubur, masalah resik-resik kuburan, masalah slametan megengan, masalah sedekah desa, semuanya itu disebut menurut ilmu feqih semuanya itu al hikmah yang diperkuat. Itu semuanya tinggalannya warisan dari Wali Songo supaya rakyat Indonesia ini ingat akan keluarganya yang sudah meninggal dunia”, pitutur luhur Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah. (OPSHID MEDIA)
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan