ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Pohon Kenongo Cino, Kenang-kenangan Kyai Achmad Sanusi Tamriz Abdul Ghofar
03 Maret 2024 15:36

JOMBANG - Ratusan warga Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia mengikuti acara Tasyakkuran Hijrah Syajarotin Mubarokatin Kenongo Cino Shiddiqiyyah ke 22 di komplek pemakaman Kyai Achmad Sanusi Tamriz Abdul Ghofar, Selasa (05/03/2024).
Acara Tasyakkuran Hijrah Syajarotin Mubarokatin Kenongo Cino Shiddiqiyyah merupakan acara tahunan yang diadakan oleh warga Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia sejak tahun 2002. pohon Kenongo Cino pertama kali dipindahkan dari kediaman Kyai Achmad Sanusi Tamriz Abdul Ghofar ke komplek pemakaman beliau yang berada di Kauman Jaziima, Kab. Kabuh, Kec. Jombang.
Dalam sejarahnya, Pohon Kenongo Cina berkaitan erat hubungannya dengan Kyai Achmad Sanusi Tamriz Abdul Ghofar, beliau adalah kakek buyut Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Al Mukarrom Bapak Kyai Moch. Mukhtar Mu'thi Syeikh Mukhtarulloh Al Mujtabaa.
Selain berada di Kec. Kabuh, Pohon Kenongo Cino sudah bertebaran sebanyak 2.400 Kenongo Cino diberbagai daerah di Nusantara. Tanaman Kenongo Cino sendiri memiliki banyak khasiat untuk kesehatan serta bisa melancarkan rezeki pada pemiliknya.
Hal ini dibenarkan oleh Bapak Drs. Dwi Agung Wali Talqin Shiddiqiyyah sekaligus DPP Ketua Bidang HAO (Hubungan Antar Organisasi), beliau menyebutkan kegunaan tanaman Kenongo Cino bisa dipakai untuk pengobatan dan perekonomian. “Kegunaan kenongo cino sendiri bisa untuk pengobatan, kalau beliau dawuh dalam bahasa jawa 'Sing wes nduwe kenongo cino dirasakan ekonominya (yang sudah punya Kenongo Cino dirasakan ekonominya). Mengandung makna insyaAlloh kamu diparingi ekonomi yang lancar. Tetapi ada syaratnya : satu, tidak boleh tidak peduli pada fakir miskin yatim piatu, yang kedua harus peduli pada perjuangan Shiddiqiyyah'”, terang Bapak Dwi mengulang dawuh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.
Sedangkan untuk nama Kenongo Cino, di kutip dari keterangan Mau'idhotul Chasanah Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Al Mukarrom Bapak Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi Syeikh Mukhtarulloh Al Mujtabaa, Kenongo Cino memiliki arti kenangan suci dari niat, yang diambil dari kata 'Kenongo' berarti kenangan, 'Ci' berarti Suci, dan 'No' = niat, nawaitunya.
Berbeda dengan acara Tasyakkuran lainnya, pada Tasyakkuran Hijrah Syajarotin Mubarokatin Kenongo Cino Shiddiqiyyah, panitia membagikan konsumsi yang disajikan di atas coek (batu cobek), yang kemudian seringkali disebut tasyakkuran coekan.
Selain itu, diadakan pula Shodaqoh Spontanitas yang sudah menjadi rutinitas tiap acara yang berlangsung di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah. Tak terkecuali dalam acara tasyakkuran ini telah terkumpul Shodaqoh Spontanitas senilai Rp21.000.000- (dua puluh juta ribu rupiah). (OPSHID MEDIA)
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon