ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Hikmah Safari Mursyid Shiddiqiyyah: Makna Dalam Jati Asih Hingga Barokah Air Maknawi
03 Agustus 2024 19:00

Bekasi — Kamis 26 Muharrom 1446 H/1 Agustus 2024 M, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Muchammad Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi dan rombongan tiba di Jami’atul Mudzakkirin Jatiasih, Bekasi. Agenda ini masih dalam Safari Nidhomus Syukri dalam rangka Shillaturahmi dan Tasyakuran Tahun Baru Hijriyyah 1446 di Serang, Banten.
Nama sebuah daerah seperti Gunungkidul, Cisoka hingga Jatiasih, selama ini terdengar hanya sebagai nama sebuah tempat, sebagai penanda wilayah. Di beberapa literasi pun sulit mencari makna atau latar belakang penamaan tersebut.
Di balik nama, pastilah menyimpan pelajaran yang besar. Seperti halnya orangtua yang memberi nama anaknya dengan harapan-harapan yang baik.
Dan dengan perjalanan Safari ini, Syekh Mukhtar telah menyibak rahasia besar dari nama daerah yang beliau singgahi. Gunungkidul, Cisoka, dan Jatiasih.
Dalam mauidhoh chasanah, Syekh Mukhtar menyampaikan bahwa adanya Jaami’atul Mudzakkirin Shiddiqiyyah di Jatiasih adalah Takdir Alloh. Dan kemerdekaan Bangsa adalah atas berkat rochmat Alloh yang Maha Kuasa.
Iman (percaya) terhadap takdir wajib bagi semua muslim. Termasuk mengimani ketetapan berdirinya bangunan Shiddiqiyyah di Jatiasih dan ketetapan kemerdekaan bangsa Indonesia serta berdirinya NKRI adalah atas berkat rochmat Alloh.
JATIASIH
“Dengan takdir Alloh Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia ini dianugrahi tempat, tempatnya Jaami’atul Mudzakkirin Shiddiqiyyah ini di Jatiasih, di tempat yang namanya Jatiasih ini takdir Alloh bukan ikhtiar kita", dawuh Syekh Mukhtar.
Kalimat pertama Jati, kalimat kedua Asih. Jati yang diseja (dituju) oleh Ati, ati nuroni bukan ati jasmani. Ati itu ada tiga, hati jasmani terdiri dari daging, hati maknawi dan hari nuroni (hati cahaya).
“Orang yang di tempat hati nuroni itu dimana saja berkat rochmat Alloh itu mengikuti terus. Dimana saja, kapan saja, dalam keadaan apa saja diikuti oleh berkat rochmat Alloh. Itu hati nuroni", beliau Syekh Mukhtar menerangkan lebih dalam.
Kemudian asih. Alloh ta’ala sifatnya yang menonjol Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Semua manusia diberi nikmat dhohir dan bathin yang tidak bisa dihitung. Karena banyak yang dikasihkan oleh manusia dari Alloh sehingga Alloh disebut Maha kasih.
Ibarat laron yang mengerubungi cahaya. Dimana ada cahaya maka jutaaan laron akan datang mengejar cahaya. Dalam Al Qur-an surat Nur ayat 34 “allohu nuurus-samaawaati wal-ardh” (Alloh cahaya langit dan bumi).
Sebagaimana dawuh Syekh Mukhtar “Buktikan dimana saja ada Shiddiqiyyah, mesti dikerumuni insan-insan yang baik. Dimana saja adanya. Lah ini yang dikejar cahaya nurulloh".
KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH
“Yang paling menonjol di Shiddiqiyyah itu hanya berkat rochmat Alloh yang maha Esa, tidak ada lainnya. Itu sumber paling menonjol dari segala yang menonjol".
Dalam pembukaan UUD 1945 Alinea ke-empat bunyinya “Atas Berkat Rachmat Alloh Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keingian luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas. Maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya".
Kalimat tersebut menyatakan kesadaran bangsa Indonesia bahwa kemerdekaan yang diraih pada 17 Agustus 1945 adalah atas berkat rochmat Alloh.
Total 434 tahun lamanya bangsa Indonesia dijajah. Harta benda dikeruk melaut ke negeri asin. Bangsa Indonesia dijadikan budak dalam negeri sendiri, bangsa Indonesia dikerangkeng dalam tanah airnya, jiwanya dibunuh, kesadarannya dimatikan, lisannya diberangus, otaknya diracuni, kehormatan ibu pertiwi di injak-injak, kesatuan dipecah-pecah, persatuan ditindas, diadu-domba suku-dengan suku, raja dengan raja, agama dengan agama.
Secara akal tidak mungkin bangsa Indonesia waktu itu bisa mengalahkan Sekutu. Namun, dengan berkat rochmat Alloh dan ikhtiar rakyat Indonesia, pada 17 Agusus 1945 kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berselang sehari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 18 Agustus 1945. Semua ini adalah takdir Alloh Ta’ala.
Tempat yang disinggahi Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah di Jaami’atul Mudzakkirin Jatiasih, rupanya tidak jauh dengan Taman Mini Indonesia Indah, hanya berkisar 8 km.
“Lha ini ada isyarah dekatnya. Bangsa Indonesia kewajiban meningkatkan taman mini Indonesia. Mininya diangkat supaya menjadi raya tidak terus-menerus mini. Indah ditingkatkan menjadi jaya. Mininya ditingkatkan ke raya, indahnya ditingkatkan di jaya, jadi Indonesia jaya. Ini kewajiban kita semuanya. Semua rakyat wajib, semua pemerintah juga ikut gabung". Begitu pesan Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah.
BAROKAH DENGAN KEHADIRAN SANG GURU
Setelah singgah di JM Jatiasih, Syekh Mukhtar dan rombongan menuju ke Resto Daun Salma jaraknya + 3 km dari JM Jatiasih.
Ketika Syekh Mukhtar sedang dahar perkiraan pukul 14.40 WIB, cuaca yang mulanya terik tidak berselang lama menjadi gelap kemudian hujan turun cukup deras. Dan ini hujan pertama sejak rombongan tiba di Jawa Barat.
Hujan yang turun hanya radius 200 meter di sekeliling Rumah Makan Daun Salma. Setelah 9 menit, hujan reda dan langit kembali cerah.
Dalam Al Qur-an Surat Al Baqoroh ayat 164, artinya “Dan Alloh menurunkan air hujan dari langit, maka Kami hidupkan bumi dengan air itu setelah matinya.”
Menurut firman Alloh Ta’ala air sifatnya hidup dan menghidupkan. Bumi yang sebelumnya kering, tandus, mati, kemudian Alloh Ta’ala menurunkan hujan atasnya, bumi menjadi hidup.
Begitu juga kedatangan Syekh Muchammad Mukhtarulohil Mujtabaa Mu’thi, dari berlian ilmunya senantiasa mensuburkan hati yang kering, menghidupkan hati yang mati. Sehingga dapat merasakan nikmatnya iman.
Dalam lambang Thoriqoh Shiddiqiyyah dicantumkan ayat ke 16 dari Surat Jin, “dan jika kamu benar-benar istiqomah atas jalan Laa Ilaaha Illa Alloh pasti Aku beri minuman mereka air yang segar".
“Menghidupkan kehidupan di dunia, menyegarkan kehidupan di dunia, mensucikan kesucian dunia sampai akhirat.” Begitu keterangan tambahan dari Syekh Mukhtar.
Terdapat banyak hikmah di balik peristiwa-peristiwa yang mengiringi safari Mursyid Shiddiqiyyah. Dan pastinya hanya beliau dan Alloh Ta’ala yang mengetahui sebenar-benarnya kebenaran. Namun kita bisa berikhtiar untuk mendapatkan hikmah dari perjalanan tersebut. (OPSHID Media)
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon