Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Perbedaan Pendapat, Bukan Pertentangan Nilai Lailatul Qodar

30 Maret 2025 10:56

Perbedaan Pendapat, Bukan Pertentangan Nilai Lailatul Qodar

Jombang–(27/03/25) Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah kembali dipadati ribuan orang yang mengikuti Tasyakuran Lailatul Qodar tahun 1446 H. Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi menyampaikan bahwa malam Al Qodar yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan jatuh pada tanggal 27 bulan Romadlon.

Semua jama’ah yang hadir di pesantren Shiddiqiyyah oleh Sang Mursyid diajak mengamalkan do’a secara bersama-sama yang oleh beliau dinamai sebagai tradisi Shiddiqiyyah yang kedua, dengan harapan dosa-dosa besar maupun dosa kecil hancur lebur di waktu Lailatul Qodar.

Kebanyakan ulama’ berpendapat malam Al-Qodar tidak bisa dipastikan, dan diperkirakan ada dalam sepuluh malam terakhir bulan Romadlon khususnya di malam ganjil. Pimpinan Thoriqoh Shiddiqiyyah memiliki pendapat berbeda, yakni malam Al-Qodar jatuh pada tanggal 27 bulan Romadlon.

Di malam barokah ini Mursyid Shiddiqiyyah menyampaikan “Ijtihad saya itu tidak bertentangan dengan orang-orang dahulu, cuma perbedaan bukan pertentangan. Perbedaan itu memperkaya ilmilah lha nek pertentangan malah memperkaya permusuhan. Tolerensi, hormat-menghormati. Tidak mencampuri paham orang lain. Kita menghormati paham orang lain adapun orang lain tidak menghormati pendapat kita tidak apa-apa”.

Pendapat Shiddiqiyyah yang berbeda dengan pemahaman kebanyakan umat muslim juga berkenaan dengan sholat Jum’at dan sholat Dzuhur di hari Jum’at. Shidiqiyyah meyakini, sholat Jum’at tidak bisa menggantikan sholat Dzuhur di hari Jum’at, sehingga setelah melaksanakan sholat Jum’at tetap wajib menunaikan sholat Dzuhur.

Selama bertahun-tahun, beliau selalu menyampaikan bahwa 17 Agustus 1945 adalah Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan 18 Agustus 1945 Negara Republik Indonesia baru berdiri. Sedangkan tiap 17 Agustus, masih banyak masyarakat Indonesia memperingatinya sebagai Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di malam Al Qodar ini, disampaikan bahwa kemerdekaan Bangsa Indonesia nilainya seperti Lilatul Qodar, “Saya bertahun-tahun ijtihad tantang apa? Ijtihad tentang nilai-nilai kemerdekaan bangsa Indonesia dan nilai lahirnya negara Kesatuan Republik Indonesia. Hanya dua itu. Itu bertahun-tahun. Setelah sudah saya ijtihad dua itu, kemudian saya tetapkan bahwa nilainya; nilainya kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti, ingat ya... seperti nilainya lailatul Qodar. Ini harus hati hati. Saya tidak mengatakan 17 Agustus kemerdekaan bangsa itu lailatul Qodar, tidak. Tapi 'seperti', jangan sampai salah”.

“Seperti, semisal, seperti nilainya, koyok nilainya lailatul Qodar bagi bangsa Indonesia bukan bangsa lain. Kalau tanya apa alasannya kok berani mengatakan “seperti”. Alasan saya, dasar alasan saya ada tujuh belas macam. Niku mboten kulo terangkan secara mendetail”, terang beliau melanjutkan.

Jadi nilai dua itu; kemerdekaan Bangsa Indonesia dan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi bangsa Indonesia lebih baik daripada 434 tahun bangsa Indonesia dijajah oleh bermacam-macam bangsa. Dihitung sejak datangnya bangsa Portugis sampai tahun 1945.

Diharapkan dengan adanya perbedaan-perbedaan pendapat ini, masyarakat bisa menerima dengan bijaksana khususnya bagi murid Thoriqoh Shiddiqiyyah. (OPSHID Media) 

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Nuraida